Bersalin Tanpa Susah Payah Melahirkan Tanpa Kesakitan - Laura Kaplan Shanley



Bersalin Tanpa Susah Payah
Melahirkan Tanpa Kesakitan


1st UBAC at home sweet home (1 month old baby, 17.08.09)! THANK THEE GOD!
THANK YOU LAURA SHANLEY THANK YOU BEATRICE JASPER THANK YOU JANICE DA SILVA THANK YOU BORNFREE! THANK YOU ICAN! THANK YOU-BERT-ObsGyn for telling me to re-read VBAC material+






 2nd UBAC at home sweet home, again! (15.01.11- the next day after my 2nd UBAC)

Melengkapi Pemahaman Peristiwa Persalinan dan Melahirkan dari Sudut Pandang Keutuhan Pribadi Perempuan Mengandung, Melahirkan, Menyusui
Memperkuat Kesatuan di Antara Perempuan (Mengandung, Melahirkan, Menyusui) dan atau Pasangannya maupun Kalangan yang Mendukungnya




Ucapan Terima Kasih

dan dipersembahkan khususnya kepada
spesialis kandungan-kebidanan yang tidak
mengandung, tidak bersalin, tidak melahirkan, tidak menyusui ...
Kepada para lelaki yang “membuahi” perempuan dan berkesempatan
berada dekat dengannya saat persalinan cinta … Untukmu; perempuan ...
Ketika tiba waktunya persalinan cinta, waktumu
melahirkan kegenapan
pembuahan. Syukur kepada
 Allah, juga terima kasih
kepada hBss,
semuanya, ...
salam ke-
hidupan
 kini dan
 kelak!





Catatan Untuk Pembaca

Yang istimewa terkasih: bert dalam hidup obsgyn dc,
kiranya kumpulan tulisan mengenai persalinan dan melahirkan ini memperkaya keterangan yang benar yang sudah ada pada bert dan berguna, terutama untuk saat-saat istimewa yaitu saat persalinan alami (istri maupun yang dekat denganmu) yang ditunggu-tunggu namun seringkali berlalu begitu cepat, tanpa manfaat yang lebih jauh, karena situasi dunia yang sudah terlalu lama memberi kesan bahwa peristiwa istimewa ini adalah peristiwa yang semata-mata akan berlalu, yang sayangnya sering berakhir dengan meninggalkan banyak cerita, ramai kesan namun memencarkan keutuhan yang seharusnya genap pada saat istimewa itu. Peristiwa persalinan dan melahirkan yang sesungguhnya mengandung kekuatan penciptaan dan kehidupan, seharusnya mampu menciptakan manusia baru yang tercerahkan di dalam diri ibu dan atau pasangannya bahkan orang lain yang (dekat dengannya), yang mengetahui pengalamannya.




Pada gilirannya, bersama Kasih Tuhan Yang Maha Esa yang tiada duanya, kiranya kumpulan tulisan ini menambah keteguhan yang bert kasihi pada saat persalinan dan melahirkan bayinya.

Untuk anda yang akan bersalin dan melahirkan melalui proses normal dan alami, selamat untuk segera menjadi perempuan utuh dengan segala pencerahannya termasuk mengalami makna INDAHNYA MENJADI SEORANG IBU yang sesungguhnya, sekarang, seterusnya.

Jakarta, Oktober 2009
Penyunting.









DAFTAR ISI


Ucapan Terima Kasih       
Catatan Untuk Pembaca       
Daftar Isi        
Pendahuluan  

I.       Melahirkan Tanpa Kesakitan
a.         Ketakutan
b.         Rasa Malu
c.         Rasa Bersalah

II.      Persalinan Tanpa Susah Payah dan Melahirkan Tanpa Kesakitan 
         (suatu pencerahan, keutuhan perempuan ...)

III.    Mengubah Ketakutan/Ketegangan/Kesakitan 
         Menjadi Keyakinan/Ketenangan/Kenikmatan

IV.     Melahirkan Berkemuncak* Kenikmatan Seksual
Kenikmatan itu Tidak Berakhir pada Saat Pembuahan!
(Lihat juga VBAC di rumah I, dc gloria, friday, july 17th 2009, 04.15.PM WIB)



V.       Manfaat Berhubungan Seksual Saat Bersalin

VI.     Kebenaran Tentang Melahirkan

VII.    Jangan Paksa Sungai  untuk Mengalir, Sungai Mengalir dengan Sendirinya

VIII.  Cara Mengenali Keadaan Darurat yang Sesungguhnya dan 
         Menangani Kerumitan Masalah

IX.    Melahirkan melalui Vagina sesudah Melahirkan melalui Operasi Cesar 
         dan Percepatan Kelahiran menggunakan Obat: Menolong atau Menghambat?
a.      Angka Operasi Cesar
b.      Sejumlah Manfaat Persalinan Spontan
c.      Sejumlah Resiko dari Tindakan Induksi
d.      “Tetapi Bagaimana bila Bayinya Terlalu Besar”
e.      Induksi pada Bayi Berukuran Besar
f.       Pecahnya Selaput Ketuban pada Saat Dini
g.      Kehamilan “Melampaui Batas Waktu untuk Melahirkan”
h.      Rahim Robek
i.       Alternatif untuk Induksi Obat-Obatan
j.       Kesimpulan dari: Melahirkan melalui Vagina sesudah Kelahiran  
         melalui OperasiCesar/VBAC dan Percepatan Kelahiran menggunakan Obat: 
         Menolong atau Menghambat?
k.      Daftar Referensi (sehubungan dengan Melahirkan melalui Vagina 
         sesudah Kelahiran melalui Operasi Cesar/VBAC dan Percepatan Kelahiran 
         dengan pemberian Obat: Menolong atau Menghambat?)

X.     Rahim Robek: Suatu penelitian selama 10 tahun berdasarkan populasi  
         mengenai uterine rupture/rahim robek
a.      Tujuan
b.      Cara
c.      Sejumlah Hasilnya 
d.      Kesimpulan Penelitian

XI.    Daftar Periksa Sejumlah Keperluan untuk Melahirkan Melalui Vagina 
         Setelah Operasi Cesar/VBAC

XII.   Lain-lain




*dari kata dasar bahasa Indonesia: puncak, yang diassimilasi menjadi kata baru: kemuncak. Bukan bahasa Melayu

Pendahuluan

Betapa baiknya bila kebahagiaan berhasilnya pembuahan oleh suatu pasangan, genap oleh persalinan dan pengalaman melahirkan yang sebanyak-banyaknya memungkinkan untuk dirawat oleh pasangan yang sama.-dC gloria-

dc pernah mendengar dan melihat bukti keberhasilan melahirkan bayi melalui proses normal pada perempuan yang pernah mengalami melahirkan melalui operasi cesar (dari cerita sorang bidan dan kisah tentang buyut dc yang mempunyai enam orang anak di mana dua di antaranya dilahirkan melalui operasi cesar dengan sayatan klasik/vertikal), karena sejumlah hal ini dan pencarian keterangan yang benar terkait persalinan anak dc yang pertama, batin dc tergerak dan memutuskan untuk mempersiapkan melahirkan anak dc yang ketiga melalui proses melahirkan normal dan alami.

Atas saran ibu baptis suami dc/mama Vero (yang anak ketiganya/Vero dilahirkan di rumahnya melalui proses normal), dc kemudian membicarakan rencana dc dengan obsgyn dc, bert. Di luar dugaan dc, ternyata dc diminta untuk mempelajarinya lebih jauh sebelum dc betul-betul memutuskan untuk melahirkan anak dc yang ketiga melalui proses melahirkan normal dan alami, karena berdasarkan ilmu kedokteran kandungan, rencana dc bisa membahayakan dc maupun bayi dc, apalagi karena jauh di dalam batin, dc terpanggil untuk melahirkan di rumah.

Akhirnya setelah dc merasa sudah mempelajarinya sedalam mungkin, dc memutuskan untuk mempersiapkan melahirkan anak ketiga dc melalui proses normal dan alami di rumah, tanpa bantuan bidan maupun obsgyn.

Berikut adalah sejumlah hal menarik yang dc temukan dan dc pahami/sadari selama mempelajari rencana dc tersebut:

*      Tanpa dc duga, ada seorang obsgyn yang baru saja berkenalan dengan suami dc. Dari perkenalan itu obsgynnya memperbolehkan dc untuk menanyakan perihal kelahiran normal setelah pengalaman melahirkan melalui operasi cesar, melalui satu (satu-satunya) percakapan telepon. Satu hal penting yang menguatkan dc untuk tetap pada rencana dc adalah pernyataan beliau yaitu bahwa semakin rutin seorang calon ibu yang berencana seperti dc memeriksakan kandungannya ke obsgyn, maka semakin dekat dengan kemungkinan melahirkan di rumah sakit, bahkan juga memungkinkan membuat ibu yang akan melahirkan menjadi tegang, dalam arti tidak mau mencoba untuk melahirkan melalui proses normal.  


*      Adik kandung dc tiba-tiba menyampaikan kepada dc satu rangkaian keterangan dari internet mengenai melahirkan melalui proses normal di rumah sakit maupun melalui proses normal dan alami rumah, di mana gambar pada halaman utama rangkaian keterangan tersebut adalah lukisan Santa Maria ibu Yesus Kristus yang sedang menggendong bayi Yesus. Dekat lukisan itu terdapat tulisan: “Mengapa takut melahirkan melalui proses normal dan alami di rumah setelah pengalaman melahirkan melalui operasi cesar?”
Ini terjadi hanya beberapa saat setelah dc berucap di depan figur Santa Perawan Maria Ratu Rosari: bahwa saya tidak keberatan bila Santa Maria tidak mendoakan saya kepada Yesus Kristus mengenai rencana untuk melahirkan normal di rumah setelah pengalaman melahirkan melalui operasi Cesar, rencana yang sepertinya tidak berkenan di hati sejumlah anggota keluarga, kerabat dekat dan kenalan. Rupanya dc tetap didoakan oleh Santa Maria dan langsung mendapat “diktat” sebagai awal dari serangkaian penggenapan dari adik dc.


*      Pada gilirannya, karena belum menemukan jawaban/keterangan yang memuaskan baik dari bert, kenalan obsgyn, dokter umum, perawat, bidan, perempuan dewasa maupun perempuan dewasa yang berhubungan keluarga mengenai perasaan yang tidak utuh di masa lalu khususnya bagi jati diri perempuan pada diri dc (wanita yang mengandung, bersalin, melahirkan, menyusui) ketika melahirkan anak pertama dc, dc juga memutuskan  untuk tidak mau mengalami situasi rumah sakit seperti ketika bersalin dan melahirkan anak pertama dc, di mana obsgyn dan bidan semata-mata memusatkan perhatian pada praktek penanganan persalinan tanpa ada kemungkinan lebih jauh untuk menangani berbagai perasaan lain yang adanya dikarenakan proses persalinan itu sendiri, baik itu perasaan keintiman seksual dc terhadap suami dc maupun perasaan ragawi seperti ketika ada dorongan ingin buang air besar. Pada keadaaan seperti ini, dc dan suami sama sekali tidak mempunyai bekal keterangan yang dapat membuat kami mengerti bagaimana menyikapi dan menindaklanjuti berbagai perasaan yang muncul dari proses persalinan tersebut. Di sini nampak jelas bahwa istilah rumah bersalin lebih ke pengadaan tempat, tenaga dan peralatan serta keterangan yang sebanyak-banyaknya dinilai memadai dari pihak penyedia perawatan untuk bersalin dan melahirkan, namun kurang harmonisasi dengan kebutuhan pihak pengguna jasa penyedia perawatan, yang memerlukan pelayanan keterangan lebih jauh untuk menangani berbagai perasaan yang muncul dari persalinan itu sendiri. Bahkan penyuluhan ketika hamil maupun senam hamil tidak membantu kami untuk keperluan tersebut. dc berada di dalam posisi yang mau tidak mau harus menerima keadaan di tempat bersalin, lepas dari cocok atau tidaknya keadaan itu bagi dc, bagi persalinan dc. dc merasa harus menerima bahwa keadaan itu memang sudah semestinya terjadi, bahwa keadaan itu merupakan satu-satunya cara untuk mendukung persalinan dan pengalaman melahirkan dc. Jauh di dalam hati kecil dc, dc sungguh tidak mau ini terulang. Kalaupun akhirnya dc terpaksa harus melahirkan di rumah sakit, dc bertekat untuk membekali diri dc dan suami dengan keterangan dan pengetahuan yang cukup terlebih dahulu agar persalinan dan pengalaman melahirkan dc kali ini sungguh memberi tempat kepada dc sebagai perempuan yang utuh yang lebih dalam memahami tentang persalinan dan melahirkan bayi dc, bukan semata-mata menjadi penonton obsgyn dan atau bidan yang menarik bayi dc keluar dari jalan lahir. Setidaknya, kali ini dc harus membekali diri lebih banyak dengan kisah pengalaman perempuan yang mempunyai rencana melahirkan seperti dc, juga bekal ilmu mengenai ilmu obsgyn sesuai kebutuhan rencana melahirkan dc.

*      dc tidak mau lagi mengandalkan dukungan dari sejumlah perempuan seperti ibu kandung dc, tante dc, yang dc kira sharing pengalamannya melahirkan dapat membuat dc lebih terampil mengelola persalinan maupun berbagai perasaan yang timbul dari persalinan itu sendiri.

*      Pada gilirannya, alaminya berbagai perasaan maupun munculnya tuntutan perasaan ketika persalinan dimulai, terjawab sebanyak-banyaknya. Tidak seperti bersalin dan melahirkan anak pertama dulu. Situasi yang dc temui saat persalinan anak ke tiga, sungguh tidak mengulang situasi ketika dc bersalin dan melahirkan anak pertama dulu. 

*      Yang tidak kalah istimewa adalah, kali ini dc bersalin dan melahirkan seperti seorang pelajar yang setelah belajar, lalu mengerjakan dan menyelesaikan soal-soal ujian dari gurunya, di mana beberapa materi yang diujikan sama dengan bahan yang dc pelajari dengan segenap hati, pikiran dan rohani dc. Ada satu hal yang pernah dc pelajari dari pembicaraan dengan bert, sewaktu dc sempat percaya bahwa dc harus melahirkan di rumah sakit, yaitu mengenai kemungkinan kegelisahan mendalam yang diderita bayi ketika bersalin dan bahayanya sehubungan dengan bekas luka operasi Cesar. Hal ini bagaikan materi pelajaran yang ternyata keluar pada saat ujian ... Namun, persiapan yang cukup lama selama dc mengandung yang disertai iman yang aktif dari Tuhan, sungguh memampukan dc mengalami seluruh rincian proses persalinan dan melahirkan dengan tenang.  

*      Kekuatiran akan bahaya yang terjadi pada persalinan dan pengalaman melahirkan dc sesudah mengalami operasi Cesar, sirna sudah. Pernyataan dari bert setelah semuanya selesai, turut menggenapi syukur dc kepada Pencipta dan Pemelihara kehidupan.

*      T (dc): “Apakah anda setuju bahwa robeknya rahim pada bekas luka operasi Cesar, kebanyakan disebabkan oleh penggunaan obat percepatan dan atau penguatan persalinan?”
   J (bert/obsgyn): “Ya. Pada kenyataannya memang begitu.”
Panggilan batin yang berasal dari Pencipta alam semesta, sungguh menjadikan seluruhnya genap sealami mungkin, sedemikian ..., sehingga pada waktunya, semua terjadi tanpa ada masalah yang berarti ... Menjadikan segala yang sudah baik menjadi lebih baik, menghadirkan kepastian yang mencerahkan harapan akan masa yang akan datang. Indahnya menjadi seorang ibu, bukan hanya dari ucapan selamat dan mengalirnya bingkisan untuk kelahiran yang terjadi, tetapi yang terutama adalah dari keutuhan pengalaman persalinan dan melahirkan yang memungkinkan untuk diwujudkan secara normal dan alami, didampingi pasangan yang mendukung sepenuhnya, yang memberikan dampak baik bagi pertumbuhan hubungan keluarga seluruhnya, seutuhnya untuk jangka panjang. Pada gilirannya, bersama bimbingan Sang Pencipta, akhirnya kami memahami cara untuk menggenapi cara alam melaksanakan tugasnya, karena kamipun bagian dari alam. Bersalin dan melahirkan secara normal dan alami, juga menyusui. Bila ada hal darurat, kami terbuka pada kemungkinan penanganan secara medis.
                       
Ternyata kita cuma tahu banyak. Bukan tahu segalanya. -dC gloria-



I.Melahirkan Tanpa Kesakitan
Ada banyak cara alami untuk menangani kesakitan tanpa menggunakan banyak macam obat. Banyak perempuan menemukan, bahwa andai tidak menghilangkan kesakitan itupun, dengan berendam air hangat sesuai suhu tubuh selama waktu persalinan aktif, dapat sangat melegakan mereka dari kesakitan. Lainnya menemukan cara yang sangat membantu dengan masturbasi dan atau berhubungan seksual. Sementara lainnya menemukan cara yang dirasa terbaik bagi mereka yaitu dengan mengucapkan kata-kata peneguhan, doa-doa, atau dengan visualisasi/membayangkan. Namun pada dasarnya, saya meyakini bahwa di dalam maupun setelah proses bersalin, melahirkan tidaklah menyakitkan atau berbahaya. Di lain pihak, sejumlah generasi yang ketakutan, malu, dan merasa bersalah dalam budaya kita itulah yang membuatnya demikian.

a.KETAKUTAN
bert, yang dc imani sungguh adalah: ketakutan mengandung hukuman. Dalam ketakutan, cinta yang dari Tuhan tidak sempurna, tidak memberi manfaat, tidak memiliki makna, tidak memberikan kekuatan ... -dC gloria-

Ketika seorang perempuan ketakutan, sejumlah pesan yang terkirim ke tubuh memberitahukan adanya bahaya di luar sana yang harus diperangi atau tubuh harus lari dari bahaya itu. Darah dan oksigen langsung terkirim ke dalam susunan otot dan memampukan perempuan yang ketakutan itu untuk memerangi atau lari dari bahaya itu. Untuk itu, darah dan oksigen harus dikuras dari anggota tubuh lainnya yang tidak dianggap penting untuk dapat melakukan tindakan darurat/“perlawanan atau melarikan diri.” Ini sebabnya mengapa wajah perempuan menjadi putih pucat ketika ketakutan. Tubuh menganggap kulit tidak penting untuk tindakan perlawanan maupun melarikan diri. Tubuh mengerti bahwa kedua lengan dan kaki lebih membutuhkan darah dan oksigen daripada kulit. 

Sayangnya, rahim juga merupakan anggota tubuh yang tidak dianggap penting untuk perlawanan dan melarikan diri. Menurut Grantly Dick-Read, penulis buku Melahirkan Anak tanpa Ketakutan, rahim dari seorang perempuan yang ketakutan biasanya berwarna putih. Tanpa “tenaga”, rahim tidak dapat bekerja dengan semestinya, kelangsungan pembuangan limbahpun juga tidak dapat berfungsi dengan semestinya. Inilah sebabnya mengapa timbul sejumlah masalah dan kesakitan. Ketika kita menjauhkan diri kita dari ketakutan, persalinan dan melahirkan bisa berlangsung tanpa kesakitan, dan bahkan pada banyak kasus, memberikan kenikmatan.

b.RASA MALU
Bagi dc, memang memalukan melahirkan bayi kami melalui vagina saya di antara sejumlah orang yang sama sekali tidak ambil bagian dalam proses konsepsi bayi kami, orang-orang yang tidak dc kenal baik sebaik saya mengenal suami dc/keluarga dc. Bila harus melahirkan di rumah sakit, sudah tentu dc terpaksa menanggung rasa tidak betah/tidak home itu seperti ketika dc harus menempuh proses melahirkan secara tidak alami di hadapan sejumlah orang baik yang tidak dc kenal dengan baik. -dC gloria-

Hampir semua budaya meyakini bahwa pada satu atau tingkatan lain, seks merupakan hal yang sangat memalukan. Mereka yang memilih untuk hidup membujang selamanya seringkali dipandang sebagai orang-orang bijak, sementara mereka yang memilih untuk mengungkapkan seksualitasnya seringkali dihujat/dikecam. Peristiwa melahirkan seringkali menjadi hukuman bagi perempuan, karena ketika seorang perempuan meyakini bahwa seks merupakan hal yang memalukan, berbagai perasaannya yang negatif begitu berat mempengaruhi tubuhnya. Sikap penuh kasih sayang dan menerima tubuh serta seksualitas kita, merupakan hal penting dalam rangka menciptakan pengalaman melahirkan yang baik.


c.RASA BERSALAH
Memiliki keterangan yang benar mengenai kesehatan kandungan dc, adanya tempat dan segala sesuatu yang dc butuhkan untuk bersalin dan melahirkan secara normal dan alami, melenyapkan kemungkinan munculnya rasa malu dan bersalah untuk sebebas-bebasnya mengungkapkan maupun menikmati segala sesuatu yang dc rasakan, yang timbul dari persalinan dan pengalaman melahirkan.-dC gloria-

Banyak perempuan menghadapi masalah dalam hal menerima kenikmatan/kesenangan di berbagai bagian kehidupannya. Mereka tidak percaya bahwa mereka layak untuk menerimanya. Karena satu atau alasan lainnya, mereka percaya bahwa mereka harus menderita. Mungkin mereka dibesarkan dengan kepercayaan bahwa penderitaan merupakan hal yang mulia, baik untuk jiwanya. Kenyataanya, kita masing-masing berhak atas kebahagiaan, namun kebahagiaan itu tidak dapat terjadi pada kita bila kita tidak membiarkannya demikian. Mengasihi dan mengampuni diri kita juga orang lain sangatlah penting bila dimaksudkan untuk keberhasilan melahirkan.

Hampir semua dari kita telah dibesarkan dengan kepercayaan bahwa melahirkan memang peristiwa alami yang membahayakan dan sangat menyakitkan. Televisi dan filem-filem terus-menerus memberi gambaran demikian mengenai peristiwa melahirkan. Akibatnya, kebanyakan perempuan akan mengalami kesakitan ketika bersalin. Bagaimanapun, kepercayaan menciptakan kenyataan, dan dengan mengatasi kepercayaan kita dan mengubah kesadaran kita, kita dapat banyak mengurangi kesakitan, dan bahkan mungkin menghilangkannya. Bahkan bila kita kesakitan ketika bersalin, kesakitan itu tidak perlu sampai menghancurkan kita. Kesakitan bisa ditanggung baik secara fisik maupun perasaan. Ketika kita menggunakan obat untuk mencoba menghindari kesakitan, maka akhirnya kita kehilangan kesempatan untuk mengalami yang saya ketahui digambarkan oleh perempuan sebagai “berbagai perasaan luar biasa ketika melahirkan.”
Rasa sakit dan kesakitan tidaklah sama. Adanya kesadaran yang juga memuat keterangan yang baik dan benar sehubungan dengan rasa sakit tertentu, mampu menghilangkan kemungkinan berlanjutnya rasa sakit  menjadi kesakitan. -dC gloria-


II.Persalinan Tanpa Susah Payah dan Melahirkan Tanpa Kesakitan ... suatu pencerahan, keutuhan perempuan ...
Oleh Laura Shanley
Kita begitu mudah meneruskan tradisi, sehingga ungkapan rasa sakit dan kesakitanpun, seperti tidak ada bedanya. Padahal rasa sakit dan kesakitan, adalah dua hal yang berbeda … -dC gloria-

Adegannya sudah biasa bagi kita. Seorang perempuan sedang bersalin berbaring di tempat tidur di rumah sakit, dikelilingi beberapa perempuan dan laki-laki yang menggunakan masker. Dahi perempuan itu berkeringat, ada desing dari mesin peralatan medis, dan ia berteriak, “Aku tidak bisa! Aku tidak bisa! Sakit! Sakit!” Inilah cara perempuan melahirkan menurut adegan itu. Apakah itu yang dilakukan perempuan ketika melahirkan?

Kenyataannya, banyak perempuan tidak mengalami melahirkan sebagai suatu hal yang menyakitkan atapun menyulitkan. Bila mau, sebut saja mereka beruntung, tetapi saya cenderung percaya bahwa hal itu lebih berkaitan dengan sikap perempuan yang bersalin tersebut, dan orang-orang yang sudah ia pilih untuk berada di dekatnya ketika bersalin. Bila anda mewawancarai seorang perempuan yang telah melahirkan dengan mudah anda akan tahu sikap tenangnya terhadap tubuh dan kesejatian pribadi kewanitaannya/seksualitanya. Mungkin ia selalu begini, atau mungkin selain dengan agung dan mudahnya bayi-bayinya terlahir, dengan penuh kesadaran ia telah mengatasi ketakutannya dan belajar mempercayai tubuhnya.

Pada titik ini, ketika sejumlah perempuan berikut mungkin saja sedikit berbeda dari biasanya, sungguh, saya tetap merasa cerita mereka ini menarik. Setidaknya, bila kita mampu merenungkan gagasan bahwa melahirkan bisa saja menjadi mudah dan tanpa kesakitan, mungkin lebih banyak dari kita akan mampu mengalaminya demikian. Dalam sejumlah kasus berikut, terdapat bacaan yang menarik. Ini adalah sejumlah kisah yang telah saya kumpulkan dalam beberapa tahun, mengenai bersalin tanpa susah payah dan melahirkan tanpa kesakitan.

* * * * * * * * * *

Enam hari dari tanggal perkiraan melahirkan anak ketigaku. Pada tanggal 6 Januari 1991 Pk.11:13 malam, aku mulai merasakan kejang otot ringan/kram, maka aku menelpon dokter. Ia meminta kami menemuinya di rumah sakit. Maka aku membangunkan suamiku dan menjemput tanteku untuk menjaga kedua putri kami. Kami berangkat Pk.11:45 malam dan menuju rumah sakit yang jaraknya sekitar 10 menit dari rumah dan aku merasakan keinginan unjuk mengejan. Aku mengejan satu kali dan kepala bayiku muncul. Kemudian diikuti bagian lain tubuhnya. Bayinya perempuan. Bobotnya 2,7 kg dan panjangnya 48 cm. Aku melahirkan sendiri ketika suamiku menyetir. Kini putriku berusia 8 tahun dan duduk di kelas dua SD.
-Dari "My Husband Drove While I Delivered" oleh Lori

* * * * * * * * * *

Aku mengetahui suatu kenyataan bahwa persalinan dan melahirkan tanpa kesakitan sama sekali memang ada! Berikut adalah kisah dari tiga perempuan berbeda … dua di antaranya adalah saudari kandungku sendiri.

Pertama, Karen, saudari tertuaku, ia bahkan tidak menyadari ketika ia dalam proses persalinan hingga pada kunjungan minggu ke 39, dokternya memberitahukannya.
Dokter langsung merujuknya ke rumah sakit. Staf di sana tidak percaya ia sedang bersalin sewaktu saudariku berjalan-jalan dengan santai dan gembiranya, tertawa dan bergurau dengan mereka juga dengan beberapa ibu lainnya. Ia tidak merasakan apa-apa hingga perasaan untuk melahirkan datang. Lima menit kemudian lahirlah Tara. Dengan sungguh Karen mengatakan bahwa selain rasa ingin mengejan melahirkan, yang dirasakannya adalah perineum (daerah di antara liang vagina dan liang dubur) nya merenggang terbuka melingkari kepala bayi.

Putri keduanya dipastikan berada dalam posisi sungsang ketika akan lahir. Saat itu juga Karen dirawat di rumah sakit, kehamilannya sudah melewati tanggal waktu perkiraan melahirkan dan dokter berencana mempercepat persalinannya. Ia bangun pagi dan walaupun ia merasa sehat ia menolak untuk sarapan. Ketika ia sedang duduk di tempat tidur bergurau dengan seorang staf perawat, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang basah di antara kedua kakinya, … ternyata ada satu KAKI! Ia memandang si perawat dan mengatakan ada kaki keluar. Perawatnya tidak percaya sampai pada waktu ia membuka selimut dan melihatnya sendiri. Ia berlari mencari dokter. Sementara kaki yang satunya muncul dengan seluruh bagian kaki. Dokter berlari mendatanginya dan dengan mengejankan dua dorongan lagi, Karen melahirkan Adele dengan bobot 4 kg 4 ons. Bahkan tidak ada waktu untuk memindahkannya ke kamar bersalin, ia melahirkan begitu saja di ruang serbaguna.
(Omong-omong, di keluarga kami, semua bertubuh pendek. Tinggi badan Karen hanya 1,5 meter.)

Saudariku yang satunya, Erika, berada di dalam perawatan ahli kebidanan, sayangnya ia menjalani episiotomy (jahitan pada perineum) dengan dua anak yang dilahirkannya terdahulu. Ia mengatakan itulah rasa kesakitan satu-satunya yang ia alami dari kelahiran baik putra maupun putrinya. Ia hanya mengetahui ada kontraksi pada rahimnya karena perutnya terasa mengeras setiap beberapa menit.

Baik, tadi saya katakan ada tiga. Yang satu ini dari sebuah artikel majalah beberapa tahun yang lalu. Seorang perempuan berusia 15 tahun mengalami sedikit rasa sakit pada perutnya dan diare. Ia menyimpulkan adanya masalah di dalam perutnya dan pergi mandi untuk menenangkan diri, lalu tidur. Beberapa jam kemudian ia terbangun oleh tangisan dan merasakan ada sesuatu yang membentur kedua kakinya yang berselimut. Karena panik, ia menarik selimutnya dan melihat bayi berkulit merah jambu, bergerak dan masih terhubung dengan tali pusar, terbaring di tempat tidur di antara kedua kakinya. Tidak diragukan lagi dari mana asalnya bayi itu! Ia bahkan tidak menyadari bahwa ia hamil! Dalam keadaan sangat kaget, ia mengangkat bayi itu dan berlari ke kamar orang tuanya. Pacarnya yang bermalam dan tiduran di sofa, sejenak memandangi perempuan itu, bayinya dan kedua orang tuanya. Dengan piyamanya ia turun menuju koridor lalu masuk ke ruang tamu dan melompat lalu berlari keluar melalui pintu depan dan pergi ke bukit. Mungkin ia mengira bahwa “Sang Kakek” akan mencari senapannya setelah kejadian itu!
-Peta Hewit

* * * * * * * * * *

 “Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada saya, dr.Douglas menyatakan bahwa ia dipanggil pada sekitar Pk.6 pagi, pada tanggal 26 September 1828, untuk datang ke Nyonya D yang tinggal di jalan Eccles. Setibanya di sana, ia melihat seisi rumah dalam keadaan bingung, dan ia diberitahu bahwa anaknya sudah lahir sebelum pesuruh pergi ke dokter. Dari sang nyonya sendiri ia mengerti bahwa, setengah jam sebelumnya, ia terbangun oleh kepanikan putrinya yang berusia lima tahun yang tidur dengannya. Kepanikan ini terjadi karena si gadis kecil merasakan adanya gerakan dan mendengar tangisan bayi di tempat tidur. Tanpa menyadari kenyataan bahwa ia telah melahirkan bayinya, sang ibu sangatlah terkejut.”

 “Seorang perempuan bangsawan yang sangat dihormati, yang merupakan istri dari lelaki baya terhormat, nyatanya pada suatu kali melahirkan di tengah nyenyak tidurnya; dalam keadaan panik menemukan satu lagi bayi selain seorang bayi lain di tempat tidur, ia kemudian segera membangunkan suaminya.”

 “Di tempat lain saya telah mengatakan mengenai kasus seorang pasien yang telah melahirkan delapan orang anak tanpa pernah kesakitan pada waktu bersalin. Semua kelahiran bayinya begitu tiba-tiba dan kelahiran itu beberapa kali terjadi dalam keadaan yang paling tidak nyaman, namun tanpa penderitaan apapun.”

 “Dalam karya Kebidanannya, dr.J. King berbicara mengenai sejumlah kasus yang ditanganinya di mana tidak ada kesakitan. Dengan meletakkan tangan pada perut ia mengetahui bahwa kontraksi otot terasa jelas, dan pemeriksaan telah membuktikan berlanjutnya persalinan, sementara si pasien tidak mengalami adanya perubahan dari kondisinya semula kecuali nafas yang ditahan.”

 “Banyak kasus yang amat jelas telah membuat saya mengerti, yang membuktikan kemungkinan persalinan tanpa kesakitan. Saya menangani seorang tetangga saya pada keempat persalinannya yang berbeda. Saya tidak pernah berhasil menemuinya sebelum bayinya lahir, walaupun saya tinggal di seberang jalan, dan sesuai pemberitahuan yang berwenang atasnya ‘tali sepatu saya selalu terikat’/saya selalu siap. Ia mengutus saya juga pada tanda persalinan awal. Selalu ada satu pengerahan tenaga lalu bayinya dilahirkan. Kepala anak-anaknya mengerut sementara, menunjukkan kelenturan susunan tulangnya.”

 “Seorang lagi wanita pelanggan (rumah sakit) melahirkan dua anaknya tanpa sedikitpun rasa sakit. Dengan anak yang pertama, ia melahirkan sendiri ditemani seorang perawat. Selama semalaman ia telah mengawasi bahwa ia merasakan kelelahan dan yakin akan melahirkan. Ia sudah berada di tempat tidur tidak lebih dari duapuluh menit ketika ia memanggil perawatnya dengan mengatakan: ‘Aneh betul yang saya rasakan! Saya harap anda bersedia melihat ada apa sebenarnya,’ bayinya sudah lahir ketika mereka terkejut sekali saat itu.”

 “Dua tahun kemudian saya terjaga oleh wanita yang sama pada sekitar pukul sepuluh malam. Selaput ketuban sudah pecah, tetapi tidak ada tanda persalinan yang terlihat. Penyelidikan mengungkapkan adanya pembukaan pada mulut rahim dan walaupun ia segera tertidur lelap, saya mengetahui adanya kontraksi yang jelas dan teratur. Tanpa rasa sakit bayinya lahir pada sekitar pukul dua pagi. Saya tidak meragukan bahwa pada persalinannya yang terdahulu, kontraksinya berlangsung serupa, dan bila ia memperhatikan sejumlah gejalanya dengan cermat, pada saat itu ia akan merasakan sejumlah gejala tersebut seperti bila seseorang merasakan kontraksi otot pada bekerjanya fungsi alami lainnya.” 
-Dari Tokology: A Book for Every Woman oleh Alice B. Stockham, M.D., Copyright, 1911

* * * * * * * * * *

 “Bila anda menderita bukan berarti anda dikutuk Tuhan, tetapi karena anda melanggar hukum-Nya. Betapa merupakan suatu mimpi buruk yang akan diambil dari perempuan: bagi mereka yang dapat dididik untuk memahami bahwa sejumlah sakit keibuan bukanlah kutukan baginya. Kita tahu bahwa perempuan Indian Amerika tidak menderita waktu melahirkan anak. Mereka akan menepi dari tempatnya, bahkan ketika sedang berjalan, dan kembali dalam waktu singkat bersama anak yang baru dilahirkan di dalam gendongannya. Betapa anehnya bila berpikir bahwa hanya perempuan Kristen tercerahkan yang dikutuk.

 “Namun satu kata dari kenyataan sepadan dengan sejumlah muatan filsafat; ijinkan aku memberikan sejumlah pengalaman pribadiku. Aku adalah ibu dari tujuh orang anak. Masa gadisku lebih banyak dihabiskan di udara terbuka. Sedari dini aku sudah menerima gagasan bahwa anak perempuan sama baiknya dengan anak laki-laki, dan aku berhasil membuktikannya. Aku berjalan sejauh tujuh setengah kilometer sebelum sarapan, atau menunggang kuda sejauh 15 kilometer … aku berpakaian sebaik-baiknya … aku tidak pernah mengecilkan badanku … Waktu empat anak pertamaku lahir, aku menderita sangat sedikit. Kemudian aku memutuskan bahwa sebenarnya aku tidak perlu menderita samasekali, maka aku berpakaian santai, jalan kaki setiap hari … dan menjaga tubuhku sendiri dengan semestinya. Satu malam sebelum melahirkan … aku berjalan empat setengah kilometer. Bayi kulahirkan tanpa kesakitan sedikitpun. Aku sendiri yang memandikan dan mengenakan pakaian padanya.”
-Elizabeth Cady Stanton, feminis awal

* * * * * * * * * *

 “Weill menggambarkan kasus dari seorang perempuan berusia duapuluh tiga tahun yang melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat walafiat pada tanggal 16 Juni 1877, dan menyusuinya selama sebelas bulan. Ia mengandung lagi dan melahirkan dalam keadaan sebagai berikut (Peristiwa melahirkan ini berlangsung selama satu jam): Ia sudah berjalan kaki pada malam harinya pada tanggal 5 September dan pulang sekitar pukul sebelas untuk tidur. Sekitar pukul 3 pagi ia bangun, merasa ingin berkemih/kencing. Ia berdiri, lalu duduk untuk berkemih/kencing. Seketika itu ia menyuarakan satu teriakan dan memanggil suaminya, memberitahukannya bahwa seorang anak telah lahir dan meminta suaminya dengan sangat untuk mendatangkan seorang dokter. Weill melihat perempuan itu selama sekitar sepuluh menit dan dalam posisinya yang sama, lalu meminta agar ia dipindahkan ke tempat tidur. Pada pemeriksaan air seni ia mendapati seorang bayi perempuan berbobot  4 kg. Ia mengikat tali pusar dan merawat bayinya. Pada perempuan itu ditemukan sedikit pendarahan dan telah mengalami pemulihan penuh. Rupanya ia betul-betul tertidur nyenyak pada sepanjang waktu kontraksi rahimnya sampai adanya perasaan yang mencolok dialaminya di akhir kontraksi yang membangunkannya, dan dikiranya sebagai rasa ingin berkemih/kencing.” 

 “Shortt mengatakan, bahwa pada suatu hari, ketika menyeberangi jalur pejalan kaki di Villaire, antara pukul tujuh dan delapan pagi, ia melihat tiga perempuan Hindustan dengan sejumlah keranjang besar kue ‘bratties’ di kepalanya, mereka datang dari desa yang berjarak sekitar 3 kilometer. Tiba-tiba satu dari mereka berdiri terdiam selama satu menit, menunduk, dan betapa terkejutnya ia oleh jatuhnya seorang anak laki-laki utuh ke tanah. Satu orang dari mereka berlari ke dalam kota yang berjarak sekitar 90 meter, untuk mendapatkan pisau guna memotong tali pusar bayinya. Beberapa pejalan kaki perempuan membentuk sebuah layar dengan pakaian mereka di dekat si ibu, dan tali pusarpun dipotong. Saat sesudah melahirkan dan perempuan tersebut sudah pergi dari kota, diketahui kemudian bahwa ia adalah ibu dari dua orang anak, berusia duapuluh delapan tahun, tidak mengalami sedikitpun tanda mendekati persalinan, dan tidak menyadari kelahiran anaknya sampai pada waktu ia merasakan si bayi sudah berada di antara kedua kakinya.”

 “ Smith dari Madras, pada tahun 1862 mengatakan bahwa ia pernah buru-buru terbangun melihat perempuan warga negara Inggris yang telah melahirkan anak tanpa tanda sedikitpun. Ia mendapati anaknya, yang sudah lahir selama sepuluh menit, bebaring dekat tubuh ibunya, dengan tali pusar yang belum terpisah dari ari-arinya. Atas perintah majikannya, pembantunya yang adalah  perempuan asli Madras, meninggalkan bayi tanpa menyentuhnya, mengganti sejumlah kain penutup dan dan memberi udara pada bayi. Nyonyanya berkata bahwa ia terbangun Pk 5.30 pagi, merasa sehat, dan selama selepas siang hari sudah berjalan-jalan menuruni anak tangga keluar yang  panjang, melintasi suatu jalan menuju rumah kecil musim panasnya di dalam area yang berdekatan dengan tempat tinggalnya. Merasa agak lelah, ia berbaring di tempat tidurnya, dan segera merasakan sedikit ketidaknyamanan, lalu merasakan ada sesuatu yang padat dan hangat terbaring bersentuhan dengan tubuhnya. Ia memerintahkan pelayannya untuk melihat di bawah sejumlah kain penutup di tempat tidurnya, dan ditemukanlah seorang anak perempuan.”

 “Coleman menemukan satu kejadian pada seorang perempuan yang sudah menikah, yang tanpa tanda sedikitpun melahirkan seorang anak ketika berdiri di dekat jendela di kamar tidurnya. Anaknya jatuh ke lantai dan tali pusarnya koyak sebesar sekitar 2,5 cm dari ari-arinya, namun dengan perhatian yang segera, hasil yang paling menggembirakanpun tercapai.
Twitchell memiliki satu contoh pada kasus seorang perempuan muda berusia tujuhbelas tahun, yang mendadak melahirkan anak sementara ia menyetrika beberapa pakaiannya. Pada kasus ini tali pusar bayi juga terkoyak, tetapi si bayi bertahan tanpa cedera.”
-Dari Anomalies and Curiosities of Medicine, oleh George M. Gould, A.M., M.D., dan Walter L. Pyle, A.M., M,D. (Percetakan Julian, Inc., 1896)


III.Mengubah Ketakutan/Ketegangan/Kesakitan Menjadi Keyakinan/Ketenangan/Kenikmatan
Oleh Laura Shanley
Ada istilah rasa mules mau b.a.b, ada istilah rasa nyeri ketika haid. Bagi dc, ada rasa nikmat seksual dalam konteks keintiman (peran konsepsi) di antara dc dan suami selain perasaan ingin terus-menerus berkegiatan akibat produktifnya proses persalinan dan melahirkan, baik itu ketika bersalin di rumah maupun di rumah sakit dan ini memang seksual sifatnya. Dan karenanya, pada gilirannya, pengalaman dc membuktikan bahwa pasangan dc adalah satu-satunya pribadi yang menjadi sumber dukungan utama yang juga memberi ketenangan dan kedamaian sekaligus menjadi pendamping utama persalinan aktif (persalinan dan seluruh rincian dinamikanya yang muncul karena persalinan itu sendiri, di antaranya: baik sejumlah aktifitas ragawi, sejumlah persaaan ragawi maupun rasa intimitas seksual). Kesadaran ini mengubah ketakutan/ketegangan/kesakitan yang secara tradisi pernah disampaikan kepada dc, menjadi keyakinan yang menguatkan, menenangkan dan pada gilirannya memberi kenikmatan. dC gloria-

Pada masa kini, pengalaman melahirkan di dalam budaya yang terus-menerus memberi gambaran bahwa bersalin merupakan pengalaman yang menyakitkan dan berbahaya dengan sendirinya disalahgunakan. Di mana-mana gambar-gambar perempuan berteriak-teriak ketika melahirkan diperlihatkan kepada kita, dan sejumlah dokter yang menggunakan masker menyelamatkannya dengan gagah berani. Drama kesehatan Televisi penuh dengan perempuan yang dilarikan segera ke dalam ruang operasi untuk operasi Cesar darurat, dan drama situasi komedi dengan rendahnya mempertontonkan wanita bersalin memaki suami-suami yang mereka persalahkan karena membuat mereka menjalani “ penderitaan saat bersalin.” Tidak ada yang memperlihatkan persalinan sebagai suatu pengalaman yang memberi kenikmatan/menyenangkan. 

Pada kenyataannya, banyak perempuan begitu ketakutannya sehingga secara harfiah mereka tidak dapat mengandung. Belum lama ini saya berbicara dengan seorang dokter yang memberitahu saya bahwa ia tidak subur/mandul. “Saya dan suami sudah menjalani pemeriksaan dan hasilnya menunjukkan bahwa secara fisik tidak ada masalah sama sekali pada kami,” katanya, “tetapi saya selalu sangat ketakutan untuk melahirkan. Sejak saya kecil saya sudah tahu kalau saya tidak akan pernah melahirkan. Apakah menurutmu ketakutan sayalah yang sesungguhnya menghalangi saya untuk mengandung?”

Saya berbicara dengan sejumlah perempuan lainnya yang bisa mengandung tetapi tidak dapat melahirkan melalui vagina. Mereka juga heran pada peran sikap ketakutan dalam pengalaman mereka.

Sejumlah lainnya melahirkan melalui vagina namun tetap mengalami kesakitan yang besar. Salahsatu perempuan berkata kepada saya, “Saya dan saudari saya adalah bayi-bayi operasi Cesar. Melahirkan melalui vagina saja adalah suatu kemenangan  bagi saya. Mungkin di lain kesempatan saya dapat menghilangkan kesakitannya juga.”

Sebanyak perempuan yang mengkritik saya atas pendapat bahwa melahirkan lebih menyenangkan dengan satu cara dari cara lainnya, atau bahwa ada sejumlah tujuan untuk diperjuangkan di dalam pengalaman melahirkan, sebanyak itu pula saya percaya pada kedua hal tersebut.

Bendera-bendera  merah tanda peringatan berkibar – bahkan di antara banyak ibu yang melahirkan tanpa bantuan medis – ketika saya bicara mengenai melahirkan tanpa kesakitan. Kebanyakan perempuan kesakitan pada saat bersalin dan mereka memasang pertahanan bila saya mengatakan bahwa persalinan tidak perlu disertai kesakitan. Banyak perempuan merasa bahwa saya “mempersalahkan” mereka atas kesakitan yang dialami, tetapi sungguh bukan itu yang saya maksudkan. Sayangnya karena budaya di mana kita dibesarkan, pada kebanyakan kasus, kenyataannya rasa sakit malah dinantikan.

Bagaimanapun juga, saya tidak melihat peristiwa melahirkan sebagai peristiwa alami yang pasti sangat menyakitkan dan saya tahu akan ada masanya di mana bersalin akan dinikmati daripada ditahan sebagai rasa kesakitan. Tetapi sebelum itu mungkin terjadi, harus ada perubahan kesadaran manusia, dan pada gilirannya, perubahan itu harus dimulai secara perorangan. 
Bila kita sungguh-sungguh mengharapkan peristiwa melahirkan tanpa kesakitan, harapan ini dapat membantu kita mengerti sedikit mengenai sifat alami rasa sakit, termasuk bekerjanya dan penyebabnya. Rasa sakit merupakan tanda yang memberitahu kita bahwa ada sesuatu yang tidak semestinya sedang terjadi. Ini berlaku pada semua orang. Rasa sakit hanya terjadi ketika kita melakukan hal yang seharusnya tidak kita lakukan. Rasa sakit merupakan pesan agar kita berhenti melakukan hal yaing tidak semestinya itu.

Pada kasus wanita bersalin jelas pesan itu bukannya untuk menghentikan persalinan. Lalu apa kiranya pesan rasa sakit yang sedang disampaikan kepada kita? Menurut Grantly Dick-Read, penulis buku Melahirkan Anak tanpa Ketakutan, ketakutan adalah sumber dari rasa sakit. Tidak ada fungsi alami tubuh yang sangat menyakitkan, tulisnya, tidak terkecuali pula pada peristiwa melahirkan anak.

Ketika seorang perempuan ketakutan, sejumlah pesan yang terkirim ke tubuh memberitahukan adanya bahaya di luar sana yang harus diperangi atau tubuh harus lari dari bahaya itu. Darah dan oksigen langsung terkirim ke dalam susunan otot dan memampukan perempuan yang ketakutan itu untuk memerangi atau lari dari bahaya itu. Untuk itu, darah dan oksigen harus dikuras dari anggota tubuh lainnya yang tidak dianggap penting untuk dapat melakukan tindakan darurat/ “perlawanan atau melarikan diri.” Ini sebabnya mengapa wajah perempuan menjadi putih pucat ketika ketakutan. Tubuh menganggap kulit tidak penting untuk tindakan perlawanan maupun melarikan diri. Tubuh mengerti bahwa kedua lengan dan kaki lebih membutuhkan darah dan oksigen daripada kulit. 

Sayangnya, rahim juga merupakan anggota tubuh yang tidak dianggap penting untuk perlawanan dan melarikan diri. Menurut Grantly Dick-Read, penulis buku Melahirkan Anak tanpa Ketakutan, rahim dari seorang perempuan yang ketakutan biasanya berwarna putih. Tanpa “tenaga”, rahim tidak dapat bekerja dengan semestinya, kelangsungan pembuangan limbahpun juga tidak dapat berfungsi dengan semestinya.
Akibatnya, timbullah rasa sakit. Jadi, agar tidak kesakitan, kita harus menghilangkan ketakutan.

Tentu saja berkata-kata lebih mudah daripada berbuat. Rasa takut hidup di dalam budaya kita dan untuk menghilangkan rasa takut yang kita bangun, banyak dari kita mungkin dapat menghabiskan waktu selama satu atau dua masa kehidupan. Bahkan orang-orang yang sudah memperoleh “pencerahan”pun pernah melalui masa kecil yang tidak sempurna. Dan bahkan seorang anak yang dibesarkan oleh orang tua yang tidak punya rasa takut sekalipun, tetap harus hidup di dalam budaya yang terus-menerus menekankan pada “bahaya” ketika kita hidup. Saya teringat oleh pernyataan yang dibuat oleh Eric Sevareid. “Bisnis terbesar di Amerika, “ katanya “, bukanlah baja, kendaraaan, atau televisi. Namun pabrik pembaruan dan distribusi rasa takut.”

Bagaimanapun, bukanlah mustahil untuk menghilangkan ketakutan, karena ada satu hal yang jauh lebih berkekuatan dari segala sesuatu yang paling bisa membakar habis ketakutan – yaitu KEYAKINAN. Keyakinan berarti percaya bahwa semuanya baik. Keyakinan berarti mengerti bahwa kita tidak sendirian di alam semesta ini. Keyakinan berarti memahami bahwa kesadaran yang menciptakan kita tidak menginginkan kita untuk menderita pada waktu dilahirkan ataupun pada waktu kita hidup. Keyakinan berarti percaya bahwa tubuh kita sudah dirancang untuk melahirkan dengan aman dan tanpa kesakitan. Keyakinan berarti menerima kenyataan bahwa kita adalah para pencipta kelahiran dan penghidupan anak-anak kita.

Keyakinan bukanlah lawan dari akal budi/kesadaran. Berkeyakinan bukan berarti bahwa kita duduk santai dan tidak berbuat apapun selama masa kehamilan kita. Ketika kita berkeyakinan, kita memahami sumber-sumber dari sebagian besar ketakutan dan permasalahan kejiwaan yang dihadapi perempuan pada saat bersalin dan kita melakukan yang terbaik untuk menghadapi serta mengalahkan ketakutan kita.

Berkeyakinan merupakan langkah awal menuju penghapusan lingkaran ketakutan/ketegangan/kesakitan yang dialami sebagian besar perempuan pada saat bersalin, karena keyakinan menuntun kepada  ketenangan, dan ketenangan menuntun kepada kenikmatan/kegembiraan.

Tidak diragukan bahwa tenaga melahirkan begitu kuat, tetapi kekuatannya bisa seperti angin yang menebarkan banyak benih pohon willow, atau seperti matahari tebit yang merendam langit dalam cahaya keemasan. Inilah pandangan saya mengenai melahirkan. Saya tahu, suatu saat orang-orang lain di dunia ini akan menceritakannya kepada saya.


IV.Melahirkan Berkemuncak Kenikmatan Seksual
Kenikmatan itu Tidak Berakhir pada Saat Pembuahan!
Oleh Laura Shanley
Ada sejumlah hal yang saya pelajari yang bukan dari buku, tetapi dari pengalaman saya mendampingi perempuan bersalin. Di antaranya adalah bahwa pembukaan jalan lahir bisa mengalami kemunduran karena perempuan yang bersangkutan tidak lagi nyaman. Hal lainnya yaitu kenyamanan perempuan bersalin yang diperolehnya dari aktifitas bercumbu bersama suaminya. Ketika merasa nyaman karena bercumbu, rahang perempuan membuka. Selanjutnya, oleh rasa nyaman tersebut, seluruh tubuh perempuan itu terbantu dalam proses persalinan.(Ketika membahas mengenai hormon yang berperan memberikan kenyamanan dan membantu  persalinan) -Ina May Gaskin-

Ketiadaan halangan untuk sebebas-bebasnya mengungkapkan perasaan yang ada karena persalinan dan melahirkan (termasuk kehamilan yang tidak bermasalah, posisi tubuh yang tidak diharuskan untuk lythotomy, tidak adanya vaginal touche/pemeriksaan pembukaan pada serviks yang berulang), menciptakan kenikmatan bagi dc selain menghadirkan ketenangan bagi suami dan keluarga dc. -dC gloria-

Konsep bahwa puncak kenikmatan seksual/orgasme bisa terjadi pada waktu melahirkan, saya ketahui pertama kali melalui Kim, teman sekamar saya waktu kuliah. Kami sedang berdiskusi mengenai melahirkan tanpa kesakitan (Saya baru saja selesai membaca tulisan berjudul Melahirkan tanpa Ketakutan) ketika Kim bilang dengan santainya, “Lo tau nggak, sebenernya banyak juga lho perempuan yang mengalami kemuncak kenikmatan seksual/orgasme pas melahirkan anak. Ibu gue orgasme waktu melahirkan gue.”

Apa?! Bagi saya konsep tersebut nyaris memalukan, bahkan ketika saya pikir bahwa saya adalah pribadi berpikiran terbuka. Saya membayangkan “ibu” itu berbaring di tempat tidur rumah sakit, mengalami puncak kenikmatan seksual/orgasme di depan tidak kurang dari sejumlah orang asing – dan dokter. Namun demikian saya jelas tertarik, sangat sependapat. Bila saat pembuahan terasa nikmat, mengapa tidak pada saat melahirkan anak?

Dalam tahun-tahun berikutnya, saya ingin lagi dan lagi membaca mengenai fakta tersebut, dan walaupun saya tidak mampu mencapai puncak kenikmatan seksual/orgasme pada beberapa kelahiran anak saya, saya rasa pada suatu saat, hal ini menjadi sesuatu yang bukan luar biasa. Sedikit demi sedikit, budaya kita menghapus ketakutannya, rasa malunya, dan rasa bersalahnya yang menjauhkan kita dari pengalaman seksual yang mana dalam hal  ini: melahirkan sendiri – sebagai kemuncak kenikmatan seksual/orgasme. Suatu saat, bila kita dapat menerima kehidupan seksual kita secara utuh, mungkin saja akan ada lebih banyak dari kita dapat mengerti kebahagiaan yang sudah dimengerti lebih dahulu oleh beberapa perempuan berikut ini:

 “Aku sudah diberitahu untuk menghadapi rasa kesakitan yang berat, tetapi tidak siap untuk rasa nikmat seksual, rasa terangsang untuk penetrasi … Berjongkok pada afghan kecil, aku menangkap bayiku yang bergegas keluar dari liang vaginaku ke dunia kecil di antara kedua kakiku, di tengah keluarnya puncak kenikmatan seksual dari dalamku.”
-Dari They Don’t Call it A Peak Experience for Nothing, oleh Ruth Claire (Mothering, Musim Gugur 1989)

 “Aku merasakan bayiku bergerak turun. Rasanya nikmat. Aku telah bersiap, lebih untuk kesakitan yang sangat, seperti waktu melahirkan anakku sebelumnya. Hanya saja kali ini denyut pada saat aku melahirkan lebih terasa luar biasa! Aku menuju puncak pengalaman melahirkan setelah sembilan bulan pemanasan hubungan seksual yang nikmat. Dengan satu tenaga mengejan, bayiku berada di jalan lahir. DORONGAN BERIKUTNYA MEMBAWANYA KE BAWAH, KE JEDA BEBERAPA SAAT SEBELUM PUNCAK KENIKMATAN SEKSUAL SAAT KETIKA KAMI PEREMPUAN MENGERTI BAGAIMANA SEBENARNYA PERASAAN TUHAN MENCIPTAKAN PLANET INI … BAYI LAKI-LAKIKU KELUAR, BERSAMAAN DENGAN MUNCULNYA KEMUNCAK KENIKMATANKU.”
-Dari Prenatal Yoga and Natural Birth, oleh Jeannine Parvati Baker

Ada seorang bidan yang paling aku puja di Perancis, yaitu tanteku Maria Therese yang lucu, gagasannya yang ekstrim adalah bahwa pokoknya saat melahirkan anak, sang ibu harus merasakan jati diri perempuannya/sexy. Selama aku hamil, aku tidak mendengarkan apapun kecuali musik rohani, musik yang cukup baru bagiku dan bagi Perancis, dan "It's a High Way to Heaven"/”Jalan ke Surga adalah Jalan Raya” (“…tiada yang dapat berjalan ke atas sana, kecuali yang murni hatinya”) diperdengarkan selama proses melahirkan; kehangatan suara para penyanyinya merupakan teman yang sempurna bagi nyala api yang begitu hidup di perapian. Liang vaginaku diminyaki dan dipijat untuk menjaga agar kedua panggulku tetap terbuka, dan cairan membasahi vaginaku, pada akhirnya aku mengalami kemuncak kenikmatan seksual/orgasme. Pierre kecil meluncur begitu saja ke dalam dunia pada ketinggian ketakjuban, bahkan tersenyum dengan penuh kedamaian sebelum membuka kedua matanya.”
-Dari Possessing the Secret of Joy, sebuah novel oleh Alice Walker

 “Banyak ibu mengalami rasa terbakar atau terkoyak/robek sewaktu diameter terbesar dari kepala bayi melewati jalan lahir. Sejumlah ibu lainnya sesungguhnya mengalami kemuncak kenikmatan seksual/orgasme.”
-Dari Mind Over Labor, oleh carl Jones, C.C.E.

 “Pada tahun 1968, aku melahirkan Robert Kilpatrick. Aku sudah mempersiapkannya, sadar, dan aku sendiri yang memegang kendali. Setelah 4 jam sejak awal persalinan, aku mengalami kemuncak kenikmatan seksual/orgasme sewaktu bayiku muncul dari dalam tubuhku.”
-Dari “Estatic Birth: The Conscious evolution of a possibility to present reality,” oleh Binnie A.Dansby; Tulisan disampaikan pada Kongres Masyarakat Internasional untuk Sikologi dan Medis Pra- dan Peri- Natal, Yerusalem, 1989.

 “Aku merasa bahwa melahirkan merupakan suatu hal yang menegaskan jati diri kewanitaanku/sexy. Peristiwa melahirkan sangatlah penuh rasa kasih sayang, sangat menggairahkan. Seluruh perasaan yang kami rasakan pada setiap kelahiran bayi kami begitu penting.
-Dari Kate Capshaw Spielberg (a.k.a. Mrs. Steven Spielberg), McCall's, Mei 1999

 “Aku mulai mengejan (ngeden) saat Michael menopangku waktu aku jongkok dengan telapak kaki berjinjit. Segera, setelah satu dorongan yang sangat kuat yang aku lakukan, aku merasakan Damian bergerak turun. Suatu kegembiraan dahsyat memenuhi ruang dapur, dan kami: Michael dan aku seperti lebur jadi satu ketika mata kami saling menatap. Peristiwa itu seperti bersatunya kami kembali pada hubungan seksual yang kami lakukan. Ya, kami adalah satu. Bukan aku saja yang sedang melahirkan. Michael juga. Ketika itu menjadi saat yang nikmat, sangat menyenangkan dan menguatkan jiwa/ekstatik. Berbagai perasaan dan pemikiran menjalariku. Aku menyatu, menyatu dengan segala sesuatu … Dan bersamaan dengan itu aku berseru dengan penuh kegembiraan seraya merasakan gerakan Damian yang datang … keluar terhempas begitu cepat ke dalam amannya kedua tangan Michael, dua tangan tanpa keraguan.
-Dari Happy Birth Days, oleh Marilyn Moran

Secara biologis, anda sudah dirancang untuk menerima kenikmatan yang dahsyat dari tubuh anda bukan hanya sewaktu bercinta dan berhubungan seksual, tetapi juga sewaktu melahirkan dan menyusui … Peristiwa melahirkan menawarkan kenikmatan seksual dalam suatu rentang yang memuat berbagai perasaan menyenangkan (bila anda santai dan merasa aman, kenikmatan terasa ketika uterus anda berkontraksi secara berirama pada awal persalinan) sampai kepada puncak peristiwa melahirkan (ya’, persis seperti kemuncak kenikmatan seksual/orgasme) seiring dengan meluncurnya bayi anda ke dalam kedua lengan anda yang menantinya.”
-Dari A Good Birth, A Safe Birth, oleh Diana Korte dan Roberta Scaer

Sebelum persalinan ini, aku melahirkan putra keduaku melalui operasi Cesar dua setengah tahun lalu. Setelah lima jam dari persalinan awal, rasa erotis makin memenuhi keberadaanku, tentu saja karena suamiku berada di dekatku. Setiap kali kontraksi, mengingatkanku pada saat kami menikmati puncak kenikmatan seksual/orgasme. Oleh desahan bersamaan dengan pengaturan nafas persalinanku, entah berapa kali sudah suamiku menanyakan tentang bagaimana rasanya persalinan kali ini dan selalu kujawab dengan jawaban yang sama bahwa setiap kali kontraksi, aku merasa ingin mencumbuinya habis-habisan dengan French kiss [dan memang itu yang terjadi (“,) ], karena gairah yang muncul oleh aktifitas seksual, yaitu kontraksi uterus yang berirama, apalagi ketika suamiku memergoki cairan bening membasahi vaginaku untuk memeriksa apakah sudah ada darah, ... Suamikupun jadi bertambah mesra mengetahui bahwa aku menikmati kontraksi bahkan mengalami kemuncak kenikmatan seksual/orgasme di tengah aktifnya persalinan … Entah sudah berapa kali pula kami menikmati French kiss sementara makin dekatnya waktuku melahirkan ‘Stefan K’. 
Sembilan jam persalinan ini, sungguh santai, aman, nyaman, mesra, erotis, penuh ketajaman jati diri perempuanku, luar biasa penuh kasih sayang. Aku bahkan merasa mampu untuk mencintai manusia di seluruh dunia! Aku juga sempat teringat akan nenek buyutku dan beberapa cerita persalinannya (juga vba2cnya) yang menguatkanku. Persalinan kali ini menyenangkan, kaya kenikmatan seksual. Kami saling memberikan sentuhan di wajah, berpelukan berkali-kali, berbagai lagu kesukaan kami mengiringi kami berdansa di tengah aku mengatur nafas persalinan dan memvokalisasi pemikiran-pemikiran peneguhan kepada diriku sendiri, suamiku memberikan pijatan di daerah perineum untuk membantu melepaskan ketegangan sementara perineumku makin lentur seiring majunya persalinan (daerah di antara liang vagina dan liang dubur), canda dan cumbuan-cumbuan mesra kami … Betapa bahagianya, aku tidak perlu kesakitan, pada akhirnya aku menjadi saksi bahwa suamiku bisa juga tenang menikmati persalinan nikmat ini …  
Aku tetap sadar, mengatur nafas, kadang terpejam menikmati bayiku yang bergerak turun, dengan bantuan cermin aku juga memperhatikan liang vaginaku yang makin banyak berdarah … “Lahir! Lahir!Lahirlah sayang! Aku berbisik kuat sambil menikmati jongkok berjinjit di kamar mandi setelah mengakhiri mandi air hangat, tidak ada kesakitan. 
Pukul 4.15 sore, … Engah nafasku berakhir ... Oleh kontraksi dahsyat dari rahimku yang mengagumkan, aku terbaring pasti, hantaman kontraksi yang sama menghempas pandanganku ke langit biru melalui jendela ... Sore yang cerah, hijau dedaunan dihembus angin … “Hngngngngngng … h, aku tak kuasa mengelak dari tenaga rahim luar biasa ini, yang membuatku bersuara kuat ketika rahim ini melahirkan bayiku … 
Dua suara panjang eranganku dahsyat bertenaga, memecah-memenuhi kesunyian kamar tidurku, para saksi mata makin terpana, berharap cemas menanti, dengan tenaga dahsyat penuh kemantapan dan kebahagiaan untuk berakhirnya kehamilanku - tanpa rasa kesakitan - hanya rasa rahim yang mendorong yang amat kuat menyertai kenikmatan ragawi nan dahsyat rasa bahwa sesuatu licin dan hangat meluncur keluar dari vaginaku – ‘Stefan K’ kulahirkan ke dunia … BYURRRR … tubuhnya berwarna merah muda cerah-rose pink, bersih tanpa noda sedikitpun, rambutnya hitam lebat. 
Tali pusar mengalungi leher ‘Stef K’, dua lilitan. Setelah lilitan dilepaskan, aku langsung menyusuinya sebelum tali pusar dipotong. Bersama ibu baptis suamiku dan putra keduaku (2,5 tahun), kami tersenyum gembira, menyaksikan dan menyambut ‘Stefan K’ beserta tangis sehatnya yang tak kalah keras dari eranganku tadi. Kemuncak kenikmatan seksual sepanjang aku mengerang untuk kedua kalinya berkesan mendalam pada suamiku.”
(vbac terwujud walaupun aku mengalami robek pada mulut rahim/jalan lahir karena tambahan tenaga dorong dariku pada saat ada ajakan mengejan yang berasal dari rahim yang kedua kalinya, yang dipicu oleh keadaan menggembungnya perutku pada hanya satu sisi secara mencolok, yang berdasarkan apa yang kupelajari kuduga sebagai akibat fetal distress/kegelisahan bayi yang mendalam, dugaanku dikukuhan setelah melahirkan, ketika kuketahui ada dua lilitan tali pusar pada leher bayiku. Selebihnya adalah terkendalinya keadaan, oleh sejumlah kerabat dekat dan keluarga aku diminta untuk bersedia dibawa ke rumah sakit terdekat untuk memperbaiki jalan lahir pada serviksku). 
-dc’s 1st vbac at home, unassisted, july 17th 2009, friday, 04.15 pm indonesian time.

“Selamat, ya! ... Tuhan kan selalu menolong orang yang berharap pada-Nya.”
-Kata-kata seorang dokter spesialis kebidanan dan kandungan untuk kelahiran bayi dari pasien yang disarankannya untuk tidak vbac di rumah namun vbac di rumah terlaksana tanpa bantuan medis..

 “Peristiwa melahirkan ini bukan hanya tidak ada kesakitan, tetapi juga sangat menyenangkan. Sebelumnya, kami tidak pernah membaca mengenai sudut pandang ini, dan sudut pandang ini mengejutkan kami. Sewaktu kepala bayi muncul, dari tampak wajah dan suara Jane aku mengetahui bahwa ia sedang mengalami kemuncak kenikmatan seksual yang luar biasa yang berlangsung sekian waktu lamanya. Betapa jauh dari kesakitan dan penderitaan yang selama ini menjadi mitos kuno! Beberapa tahun kemudian kami bertanya mengenai hal ini kepada seorang dokter yang simpatik. ‘Ya, katanya, saya sudah menyaksikan beberapa kali. Bahkan bisa jadi begitu banyak perempuan sudah, yang mengalami kemuncak kenikmatan seksual sewaktu melahirkan anak, tetapi menerjemahkannya sebagai kesakitan karena sejumlah perasaan yang dirasakan lebih kuat dari perasaan apapun yang pernah dialami dan karena kondisi perempuan terbiasa untuk menerima rasa sakit.”
-Dari Home School Challenge, oleh Donn Reed

 “Peristiwa melahirkan merupakan aktifitas berdaya cipta tinggi yang penuh dengan kemuncak kenikmatan seksual, dan dapat menjadi saat kebahagiaan yang menguatkan jiwa bagi sang ibu.”
-Dari “Mental First Aid in Pregnancy and Childbirth,” oleh Joost A.M. Meerloo, MD.
(Child and Family, Musim Gugur 1996)

“Kegembiraan sewaktu melahirkan dapat menjadi titik awal hubungan keluarga yang sebaik-baiknya. Pengetahuan kita mengenai keturunan/reproduksi menyiratkan bahwa bisa saja ada suatu alasan biologis untuk mengaitkan kebahagiaan sewaktu melahirkan dengan akibat baik bagi sang bayi.”
-Dari “Psychological Factors in Birth and Breastfeeding," oleh Niles Newton, Ph.D.

 “Mengejan (ngeden) sangatlah luar biasa. Rasanya BEGITU nikmat. Aku menyukai perasan pada waktu kepala putriku muncul keluar; dan keluarnya tubuh putriku sangatlah luar biasa. Aku meraung keras. Kemudian KT bertanya apakah aku sangat kesakitan dan aku bilang bahwa aku tidak merasa kesakitan sama sekali. Aku menggapai keberadaanku yang paling dalam - aku merasa seperti menggapai kembali ke dalam diri Nenek Buyutku sendiri melalui masa kekekalan, - dan menggunakan besarnya kekuatan tenagaku mendorong bayi perempuanku keluar. Suaraku adalah suara kuat, bertenaga besar. Dan aku merasa diberi tenaga secara luar biasa. Bisa dikatakan bahwa itu adalah perasaan terbaik yang pernah aku rasakan. Tenaga kehidupan yang luar biasa menjalar melalui aku. Besarnya tenaga dari perempuan, tenaga dari melahirkan, tenaga dari Carolyn! Bila aku dapat melakukannya, maka aku dapat melakukan apapun sesuai dengan pikiran yang telah aku tetapkan. Rasa dari meluncur keluarnya tubuh putriku adalah kemuncak kenikmatan seksual. Aku tetap bergetar bila mengingat betapa nikmat dan menyenangkannya rasa itu.
-Carolyn. S

“Seorang perempuan di California melahirkan anak di rumahnya di dalam bak mandi non permanen dan sedang sangat merasakan jati diri kewanitaannya serta penuh cinta pada pasangannya. Setiap waktu di mana ia merasakan kontraksi ia berteriak, ‘Oh sayang, aku suka’. Lagi … lagi!’ Jendela rumahnya terbuka karena waktu itu bulan Juli (musim panas), dan segera saja sekerumunan orang berada di luar rumahnya. Waktu bayinya lahir di tengah-tengah teriakannya ‘Ya’!!!Ya’!!! Oh Tuhanku, ya’!!!’ para tetangganya memberikannya tepuk tangan meriah yang panjang. Mereka baru menyadari bahwa peristiwa itu adalah kelahiran bayi  setelah mereka mendengar tangis bayinya.”
-Dari Gentle Birth Choices, oleh Barbara Harper, R.N.

 “Saat itu merupakan kemuncak kenikmatan seksual terbaik. Aku merasa terbuka, lepas dan bebas. Kata-kata tidak dapat menjelaskan perasaan ketika tubuh bayiku meluncur keluar. Sampai hari ini, di dalam hatiku aku tetap dapat merasakan perasaan yang luar biasa itu. Perasaan itu membuatku merinding.”
-Dari An Act of Love, oleh Lynn Griesmer

Sejauh ini, anehnya, tenaga yang mengaliri/menjalari tubuh dalam pengalaman melahirkan, tekanan dari kontraksi otot, gerakan bayi ke bawah dan gerakan memutarnya bukaan jaringan-jaringan halus, dapat dengan kuatnya membangkitkan gairah seksualitas … [Melahirkan anak] Bisa menjadi rasa seksual yang paling kuat yang pernah dialami perempuan, sekuat kemuncak kenikmatan seksual/orgasme, bahkan lebih kuat dari puncak kenikmatan seksual/orgasme.”
-Dari Women’s Experience of Sex, oleh Sheila Kitzinger

 “Pengalaman melahirkan pada dasarnya merupakan tindakan berdaya cipta, seperti tindakan persatuan secara seksual … Pada kenyataannya, banyak perempuan menjabarkan peristiwa melahirkan sebagai kenikmatan yang kuat dan mereka telah membicarakannya dalam sejumlah ungkapan yang mengandung makna kemuncak kenikmatan seksual … makin banyak dan banyak lagi perempuan menikmati persalinan dan pengalaman melahirkan anak bersama suaminya seperti ketika mereka menikmati pengalaman seksualnya … Bercinta, puncak kenikmatan seksual dan melahirkan anak semuanya ini saling berkaitan.”
-Dari Special Delivery oleh Rahima Baldwin

 “Perasaan yang aku alami waktu itu begitu menyenangkan, menguatkan jiwa, luar biasa, amat menggembirakan. Aku mendengar sendiri diriku berteriak merintih – dalam kegirangan, bukan kesakitan! Tidak ada kesakitan sama sekali, hanya ada satu  kebahagiaan seksual yang ada sejak jaman dahulu kala … Dengan rasa di atas segala rasa, rasa yang paling membuatku merasa melayang berputar, rasa terbius yang membahagiakan, aku merasakan bayiku meluncur keluar. Aku ingin berteriak dengan gembira.”
-Dari Natural Childbirth and Christian Family, oleh Helen Wessel

 “Putra pertamaku lahir melalui operasi Cesar yang tidak direncanakan. Putra keduaku lahir melalui persalinan terencana di rumah dengan bantuan seorang bidan. Putraku lahir dengan posisi posterior, (tubuh bayiku membelakangi aku, kepalanya lebih menekan tulang ekorku) dan bayiku tidak mau berputar dari posisi posteriornya. Ada rasa sakit yang luar biasa, tetapi pada menit-menit terakhir, mendadak berbalik menjadi gelombang besar perasaan nikmat sebesar rasa sakit waktu itu, seiring dengan keluarnya tubuh putraku, Dhyana, ‘Waw! Rasa apa itu yang terakhir kurasakan!?’ Ia bilang, “Itu adalah hadiah. Banyak dari pasienku-para ibu, yang mendapatkannya.” “Aku memeluk bayi itu dan langsung mengasihi, merawatnya dengan seluruh keberadaanku. Mungkin dengan cara beginilah alam memberikan hadiah itu bagi kita. Kini, ketika mengenangnya, yang dapat kupikirkan hanyalah saat putraku melewati dan menghantam titik puncak kenikmatan seksualku/orgasmeku … dengan seluruh bobot tubuhnya seberat 9 pon (kurang lebih 4 kg).”
-Dari “The Gift,” oleh Susan  

 “Aku meminta suamiku bercinta (berhubungan seksual) denganku ketika aku sedang dalam suasana hati yang penuh kemesraan dan ingin segera merasakan suamiku di dalam diriku secepatnya. Peristiwa itu sangat luar biasa. Aku mengalami puncak kenikmatan seksual/orgasme berkali-kali selama kontraksi – suatu rasa yang sangat nikmat. Tidak ada kesakitan sama sekali … (semenjak itu) tingkat kenikmatan bercinta kami beralih dari sangat nikmat ke luar biasa nikmat.”
-Dari The Effect of Lovemaking on the Progress of Labor, “ oleh Marilyn Moran (Jurnal Sikologi Pre dan Perinatal, Musim Semi 1993)

 “Peristiwa melahirkan memiliki banyak kesamaan dengan peristiwa kemuncak kenikmatan seksual/orgasme; hormon oxytocin dilepaskan, ada sejumlah kontraksi rahim, menegangnya puting payudara, dan pada sejumlah situasi terbaik untuk melahirkan: adanya kemuncak kenikmatan seksual.”
-Dari In Labor, oleh Barbara K.Rothman

 “Peristiwa melahirkan merupakan peristiwa terselubung, pribadi dan merupakan pengungkapan rahasia jati diri seksual masa lalu kita. Sejumlah perasaan muncul ketika melahirkan, saat kita membiarkan perasaan-perasaan itu terjadi pada saat-saat akhir kehamilan, sebenarnya sangat badani – sangat banyak menyerupai kuatnya, nikmatnya kontraksi yang bergerak meremas yang terjadi sewaktu puncak kenikmatan seksual/orgasme … sejumlah perasaan pada waktu melahirkan tidaklah urakan maupun kejam; melainkan sangat menyenangkan - kita merasakan tekanan berkesinambungan pada mulut rahim kita seiring tubuh yang bersiap untuk sesuatu yang termanis, kemuncak kenikmatan seksual/orgasme yang paling kuat rasanya, puncak persalinan cinta kita yang terindah: melahirkan. Selama pengalaman melahirkan, kita bernafas terengah, berteriak, dan menghempas kepala kita ke belakang – perilaku badani ini bertujuan: menghirup lebih banyak udara, melepas hormon adrenalin ke dalam aliran darah kita, dan melebarkan jalan keluar pada tulang panggul kita. Dan pada saat bayi keluar seluruhnya baru dan mulus, kita mengalami kenikmatan yang menguatkan jiwa, kenikmatan yang pernah kita ketahui, di mana kita dibahagiakan oleh muatan hormonal dengan bobot yang telah ditambahkan.”
-Dari Resexualizing Childbirth, oleh Leilah McCracken

 “Pada kira-kira Pk.3 pagi, aku merasakan bayiku akan lahir, ada juga aliran tenaga yang sangat besar yang aku rasakan, ini merupakan yang pertama yang aku rasakan. Kemudian aku menciptakan suatu penemuan yang mengejutkan. Melalui doa-doa, aku mampu mendapatkan pengetahuan langsung dari Tuhan, bahwa peristiwa melahirkan adalah peristiwa seksual, dan melibatkan sejumlah mekanisme yang sama yang ada pada permulaan peristiwa ini. Aku mampu memulai persalinanku kembali dan dalam waktu 15 menit aku berada di dalam persalinan yang berat. Selama aku sendirian dan mampu membiarkan terjadinya kenikmatan seksual saat melahirkan, maka akupun mampu mengalami sejumlah kemuncak kenikmatan seksual/orgasme tanpa kesakitan sama sekali.”
-Dari Pat Golz, dalam newsleter, The New Nativity, diedit oleh Marilyn Moran

 “Tubuhku menyuruhku agar aku jongkok dengan telapak kaki berjinjit, maka aku berjongkok demikian. Lalu aku jongkok lebih rendah tanpa berjinjit pada kedua kakiku, memusatkan pikiranku pada persalinan, tanpa diberitahu, aku mengerti bahwa jutaan perempuan sebelum aku telah melahirkan bayi-bayi mereka ke dunia dengan posisi yang ditakdirkan ini. Rasanya sangat nyaman dan nikmat berjongkok seperti ini; aku merasakan bayinya bergerak turun. Datanglah … DATANGLAH …DATANGLAAAAAH! Aku mulai berteriak, tidak kesakitan – tetapi kegirangan dan  dengan kelegaan. Aku merasakan suatu rasa nikmat yang begitu besar pada tubuhku seiring dengan berlanjutnya persalinanku, lagi dan lagi, dan lagi, aku berteriak dengan penuh hasrat dan kebahagiaan. Bayinya perlahan muncul begitu juga kemuncak kenikmatan seksual yang kurasakan. Aku mengejankan satu lagi dorongan yang amat kuat dengan segenap tenaga keberadaanku; kepala dan pundaknya muncul. Bersamaan dengan itu aku menangis. Aku meraih tubuh bayiku pada bawah kedua ketiaknya dan menariknya keluar … seorang anak. Seorang anak yang hidup dan bernafas … lahir dengan sempurna. Cantik sempurna. Anak perempuanku.”
-Dari Awakening, oleh Jen Bradley

“Aku kembali ke atas dengan beberapa kaset dansa Stella. Musik untuk tari perut meng-
iringiku, aku menemukan bahwa dengan tarian ini rasa yang muncul dari kontraksi lebih dapat kutanggung … Cukup aneh memang, makin seronoknya aku menyentak panggulku ke depan dan ke belakang, makin berkurang sakitnya. Penemuan ini amat menakjubkan! Mengapa aku tidak pernah tahu bahwa gerakan-gerakan ini berhubungan degan aktifitas persalinan/melahirkan, aku bertanya-tanya … Beberapa lama kemudian, aku menemukan bahwa gerakan panggul yang menyentak yang selama ini aku lakukan dalam hidupku – dansa untuk mendapat kencan, bercinta, dan kini melahirkan – ternyata berkaitan seluruhnya. Seluruh gerakan menyentak itu telah membuatku hamil, dan seluruh sentakan kini akan membantuku melahirkan satu kehidupan baru ke dunia. Sementara suara drum memekakkan telingaku, dalam kedamaian aku mengerti bahwa aku telah menemukan rahasia bagi kehidupan: Mulianya sentakan panggul.
Dari “The Glorious Pelvic Thrust”/Mulianya Sentakan Panggul,” oleh Maria Young Alders (Mothering, Musim Dingin1994).

 “Walaupun mungkin bahwa kemesraan dan murninya jati diri jender (seksualitas) pada pengalaman melahirkan bisa tersamar, peristiwa melahirkan selalu penuh kemesraan dan bersifat seksual. Ini diteguhkan oleh pengalamanku sendiri pada kelahiran anak-anakku. Seluruh perasaanku pada sepanjang waktu persalinan istriku hanya dapat kugambarkan sebagai satu hal yaitu suatu persatuan seksual, perasaan-ragawi yang sangat dekat dengannya dan apa yang kurasakan, menjadi tenaga yang menguatkan yang mengalir melaluinya. Perasaan ketika itu hangat dan lembut, seperti bercinta, tetapi juga kuat, penuh tenaga dan menakjubkan. Setiap peristiwa itu telah mengubah hidupku dan memberikanku kilasan peristiwa yang adanya di luar jangkauan pikiran manusiawi/transendental.”
-Dari Lewis E.Mehl, MD., dikutip ke “Aspek-Aspek Fisiksikologis Melahirkan Anak/”Psychophysiological Aspects of Childbirth”, dalam Psychology of Birth, oleh Leslie Feher


V.Manfaat Berhubungan Seksual Saat Bersalin
Oleh Laura Shanley
Bagi dc, peristiwa bersalin dan melahirkan secara alami memang juga merupakan suatu pengalaman seksual, mengingat aktifitas persalinan dan melahirkan yang juga melewati liang vagina, liang interaksi seksual. -dC gloria-

Dalam artikel ini, penyunting dari Majalah Nurturing: Marnie Ko dan saya membicarakan suatu peran suami dalam persalinan. Topik-topiknya termasuk cara menghadapi suami yang tidak yakin, dan manfaat berhubungan seksual pada saat bersalin.

* * * * * * * * * * * *

Marnie: Bagaimana cara perempuan menghadapi suami yang mungkin ketakutan/ngeri atau menolak proses kelahiran normal dan alami di rumah?

Laura: Untungnya saya tidak pernah menghadapi masalah seperti itu. Suami saya selalu merasa nyaman dengan peristiwa melahirkan normal dan alami di rumah. Kenyataannya, suami sayalah yang pertama kali mendorong saya untuk melakukannya. Yang lain tidak seberuntung itu. Sejumlah perempuan bersedia mendidik suaminya dengan penuh kasih, atau mendorong mereka untuk membaca tulisan yang berkaitan dengan proses melahirkan normal dan alami di rumah. Bagaimanapun, ada sejumlah perempuan yang melanjutkan rencana mereka untuk melahirkan melalui proses normal dan alami di rumah, juga mengumpulkan pertolongan keluarga dan teman-temannya, atau melahirkan seorang diri.

Bagaimanapun, seorang suami yang tidak mendukung seringkali memantulkan sejumlah ketakutan yang tak terselesaikan yang ada pada istrinya. Banyak perempuan yang menemukan bahwa dengan mengatasi ketakutannya, suami mereka mulai bersedia mendampingi mereka. Sembilan bulan adalah waktu yang lama, dan banyak suami yang ketakutan pada awalnya, pada akhirnya bersemangat mendukung proses melahirkan normal dan alami di rumahseiring lahirnya sang bayi.

Marnie: Apakah adil bagi seorang perempuan dibiarkan melahirkan hanya dengan suaminya – menurut anda apakah dengan menghadapi semua kebutuhan perasaan istrinya selama proses melahirkan maka hal ini menempatkan suami di bawah terlalu banyak tekanan?

Laura: Kebanyakan masalah perasaan yang dihadapi perempuan saat bersalin mengarah pada rasa takut. Mengatasi sejumlah ketakutan selama masa kehamilan (atau sebelumnya), menjadikan proses melahirkan jauh lebih mudah. Alasan lain yang dapat membuat proses melahirkan melelahkan perasaan adalah fakta bahwa perempuan bersalin seringkali diminta untuk melakukan hal-hal yang berlawanan dengan perasaan mereka. Mungkin dengan menyuruh mereka berbaring sementara mereka sungguh ingin berjalan-jalan, atau mungkin dengan mendesak mereka untuk bersedia mengalami sejumlah banyak pemeriksaan ketika mereka ingin dibiarkan sendirian. Ketika seorang perempuan berada di rumah hanya bersama suaminya, ia bertanggungjawab pada persalinannya. Ia mampu mendengarkan “ketenangan, suara kecil “ dari dalam dirinya yang selalu membimbingnya. Ini semua, baik di dalam dan dari dalam, dapat meringankannya dari sebagian besar beban ketegangan.

Bahkan bila perasaan seorang perempuan sedang tertekan, ada banyak yang dapat dilakukan pasangannya untuk membantunya menenagkan diri/bersantai. Melahirkan merupakan tindakan seksual, dan berhubungan seksual pada saat bersalin seringkali membantu memudahkan proses persalinan. Ketika seorang perempuan terangsang secara seksual, maka oxytocin mengalir melalui sistem tubuhnya, menyebabkan berkontraksinya rahim, hal ini terjadi baik pada puncak kenikmatan seksual/orgasme atau pada kontraksi-kontraksi persalinan. Pada kenyataannya, banyak perempuan mampu mengalami kontraksi persalinan sebagai suatu kenikmatan. Ketika seorang perempuan berada di rumah hanya bersama suaminya, ia dapat membiarkan dirinya bersikap dan beraktifitas seksual secara penuh. Ketiadaan hambatan memungkinkan oxytocin mengalir bebas. Di lain pihak, rumah sakit bukan merupakan tempat yang mendukung aktifitas seksual. Aliran oxytocin terhambat dan seringkali harus diberikan bahan tiruannya dalam bahan Pitocin.

Manfaat lain (selain kenikmatan!) dari berhubungan seksual pada saat bersalin adalah dihasilkannya bahan relaxin. Relaxin merupakan hormon/yang ada di dalam cairan sperma mamalia (termasuk sperma manusia laki-laki). Sejumlah penelitian membuktikan hormon ini melunakkan mulut rahim dan memperpanjang otot-otot panggul/ligamenta, yang makin mempermudah bayi melewati jalan lahirnya (pada saat pembuahan makin memudahkan sperma untuk memasuki saluran telur). Di rumah sakit, banyak perempuan diberikan prostaglandin yang mengandung relaxin ke dalam tubuhnya. Yang mungkin tidak mereka sadari, bagaimanapun juga, sumber relaxin dalam prostaglandin itu adalah cairan sperma dari babi (dalam perkembangan lebih jauh, cairan sperma babi digantikan dengan bahan buatan). Saya sendiri selalu lebih memilih cairan tubuh manusia! Sebagai pesan khusus, penelitian telah membuktikan bahwa pemberian prostaglandin melalui mulut sepuluh kali lebih berdayaguna. Pada proses melahirkan normal di rumah, memberikan relaxin melalui mulut merupakan cara yang lebih menyenangkan. Cobalah melakukan itu di rumah sakit! Para suami seharusnya mendukung proses melahirkan normal, dan memahaminya sebagai kesempatan sempurna bagi mereka untuk menyatakan cinta baik ragawi maupun sepenuh perasaan bagi para istri.

Marnie: Bisa anda jelaskan mengenai akan seperti apa dan seperti apa melahirkan tanpa bantuan tenaga ahli medis bagi mereka yang tidak dapat menggambarkan konsepnya?

Laura: Seperti halnya perbedaan pada setiap pertemuan seksual, setiap peristiwa melahirkan juga berbeda. Bayangkanlah perbedaan antara berhubungan seksual di rumah sakit yang dikelilingi karyawan rumah sakit, mesin, dan berhubungan seksual di rumah di dalam ruangan yang diterangi cahaya lilin. Banyak orang terlalu termakan oleh ketakutan mengenai melahirkan, mereka tidak tahu betapa peristiwa itu bisa terjadi dengan begitu ajaibnya. Singkirkan obat-obatan dan mesin-mesin, singkirkan banyak mata yang memperhatikan penuh kekuatiran, singkirkanlah ketakutan, dan dunia baru terbuka lebar bagi kita. Banyak perempuan menghadapi kekuatan berdaya cipta dari dirinya sendiri untuk pertama kalinya. Demikian halnya dengan saya.


VI.Kebenaran Tentang Melahirkan
Oleh Laura Shanley
-Bersalin dan melahirkan adalah proses alami. Keduanya sebanyak-banyaknya bukan dirancang dan diciptakan untuk disikapi, ditangani secara tidak alami. dC gloria-

Pada masa sekarang ini, rata-rata wanita yang melahirkan di rumah sakit dibebankan oleh begitu beragamnya keterlibatan medis yang tidak diperlukan, yang dalam kenyataan malah membahayakannya. Banyak buku dan situs yang membahas hal ini, maka saya hanya membahas dua dari yang umum dibahas yaitu: Pitocin dan pembiusan/anastesi menggunakan epidural.

Pitocin diberikan kepada perempuan di rumah sakit, baik untuk merangsang rahim untuk memulai persalinan maupun untuk mempercepat suatu persalinan yang menurut dokter terlalu lambat berproses. Kedua alasan tersebut jarang disetujui, sesuai kenyataan bahwa kebanyakan perempuan dapat melampaui masa perkiraan hari melahirkan mereka dengan selamat, dan sekali persalinan dimulai, hanya ada sedikit alasan kuat untuk mempercepatnya. Pitocin merupakan bahan buatan untuk menggantikan suatu bahan yang dihasilkan tubuh secara alami/oxytocin ketika seorang perempuan tenang dan tidak ketakutan. Oxytocin dihasilkan bukan hanya pada saat seorang perempuan bersalin, namun juga pada saat menyusui dan berhubungan seksual.  Ini yang menyebabkan para bidan menyarankan berhubungan seksual untuk memulai persalinan. Mereka mengerti bahwa bila puting payudara dan kelentit  perempuan dirangsang, tubuhnya akan menghasilkan oxytocin.

Perangsangan persalinan yang dihasilkan dari puncak kenikmatan seksual bahkan lebih kuat. Menurut Ann Douglas dan John R. Sussman, MD., penulis buku The Unofficial Guide to Having a Baby, satu masa puncak kenikmatan seksual diperkirakan 22 kali lipat menenangkan seperti pada efek dari zat penenang kebanyakan. Ini seringkali dibutuhkan seorang perempuan untuk menghilangkan ketegangan yang menghalangi bekerjanya reaksi persalinan. Bagaimanapun juga, kebanyakan dokter tidak menyadari kenyataan ini dan malahan lebih memilih sejumlah cara tidak alami. 

Apa yang tidak disadari oleh kebanyakan perempuan adalah bahwa selain tidak diperlukan, Pitocin juga mengandung bahaya. Dalam artikel “Pemutahiran Obat-Obatan dan Rangkaian Tindakan pada Ilmu Kebidanan: Akibatnya pada Temuan Akhir pada Ibu dan Bayi, (Birth Gazette 13:1, 1996) Doris Haire menulis: “Sejumlah pabrik Pitocin di Amerika menunjuk kepada sisipan di dalam kemasan bahwa oxytocin buatan dapat menyebabkan: a)serangkaian tekanan darah tinggi pada ibu, b)gangguan jantung/irama jantung, c)kejang rahim, d)kontraksi bertubi-tubi yang terlalu kuat, e) robeknya rahim, f)pendarahan pada rongga di antara otak dan selaput otak, g)keracunan melalui air ketuban, h)kejang mendadak, i)koma, j)hematoma panggul, k)pendarahan sesudah melahirkan, l)afribinogenemia, dan m)kematian bayi. Sejumlah perangsang rahim yang jelas menunjukkan sejumlah jeda penyediaan-oksigen di antara sejumlah kontraksi yang menjadikan kontraksi terlalu lama, terlalu kuat, atau terlalu dekat jaraknya, meningkatkan kemungkinan akan matinya sel-sel otak pada bayi. Situasi ini seumpama dengan memegang seorang bayi di bawah permukaan air, membiarkan si bayi muncul megap-megap ke permukaan untuk menghirup udara tetapi tidak bernafas.

Tidak heran bila di rumah sakit ada banyak bayi yang ditemukan mengalami kegelisahan mendalam. Secara harfiah mereka tercekik.

Kontraksi yang dirangsang oleh Pitocin seringkali menyakitkan. Kebanyakan perempuan yang menerima Pitocin pada akhirnya menggunakan epidural, walaupun awalnya mereka sudah memutuskan untuk melahirkan secara normal. Lepas dari apapun yang dikatakan pada kebanyakan perempuan, epidural dapat menyebabkan sejumlah hal sebagai berikut:
melambatnya persalinan yang menuntut penggunaan obat tambahan untuk mempercepat persalinan
turunnya tekanan darah ibu yang mengancam nyawa baik ibu maupun bayi
hilangnya kenikmatan melahirkan
ibu dan bayi menjadi tidak tanggap sesudah melahirkan
ketidakmampuan ibu untuk mengejan untuk mendorong bayi keluar yang menyebabkan digunakannya forsep untuk membantu melahirkan
sakit kepala dan tengkuk pada ibu yang berlangsung beberapa minggu
kesulitan bernafas dan menghisap pada bayi
kelambanan berpikir dan bergerak yang menyebabkan ketidakmampuan pada ibu dan bayi untuk berhubungan lebih dekat
muntah dan terhirupnya cairan yang menyebabkan kematian ibu
kerusakan otot, pengelihatan dan perkembangan syaraf bayi
kerusakan otak jangka panjang dan keterbelakangan mental pada bayi
kecacatan jangka panjang pada ibu
kematian bayi

Kebiasaan menggunakan Pitocin dan anastesi epidural secara langsung bertanggungjawab atas “kerumitan masalah/komplikasi” yang dialami perempuan di rumah sakit. Tingginya angka operasi Cesar di negara ini bukan disebabkan karena bahaya dan sulitnya kelahiran alami melalui vagina. Tingginya angka itu dikarenakan peristiwa melahirkan tidak dirancang/tercipta secara medis (oleh Tuhan) dan pada dasarnya bukan merupakan peristiwa untuk ditangani secara medis.

Sementara semua ini disampaikan, tidak disangkal bahwa banyak perempuan berhasil melahirkan di rumah sakit. Di lain pihak, saya sangat yakin bahwa mereka melahirkan di rumah sakit lebih dikarenakan tradisi cara kerja rumah sakit bukan karena mereka sendiri. 

Tentunya hampir semua dokter tidak setuju dengan pemikiran ini. Mereka akan segera menunjuk pada banyaknya “masalah” yang mereka yakini telah berhasil “diatasi”. Bagaimanapun juga, yang tidak berhasil mereka akui adalah banyak dari yang mereka sebut dengan masalah yang berhasil ditangani, padahal pada tempat pertama, sesungguhnya disebabkan oleh mereka sendiri. Misalnya, para dokter berbangga pada diri sendiri untuk kenyataan bahwa pada masa kini mereka menolong lebih banyak bayi lahir prematur dari yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Mereka tidak berhasil menyebutkan bahwa menurut majalah Midwifery Today, penyebab terbesar kelahiran prematur masa kini adalah induksi/percepatan (perangsangan) persalinan. “Dengan gagah beraninya” para dokter menolong bayi-bayi yang seharusnya masih aman bertempat di dalam rahim ibunya!
Saya tidak mengecam semua dokter. Banyak dari mereka adalah dokter yang baik dan memiliki kepedulian. Dan kenyataan yang menyedihkan adalah, walaupun ada banyak perempuan merasa dibebankan keterlibatan medis, ada banyak pula perempuan yang mengharapkan bahkan menuntut keterlibatan itu. Para dokter yang tidak memenuhi harapan-harapan perempuan bisa saja dituntut bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Di lain pihak, saya rasa aman-aman saja bila saya menyatakan bahwa sebagian besar dokter di banyak rumah sakit di Amerika meyakini bahwa melahirkan merupakan penderitaan berbahaya yang harus ditangani, diatur, dan diputarbalikkan. Alasan keuangan juga menyebabkan berlangsungnya praktek ini. Di negara ini, bidang usaha ini menghasilkan milyaran dollar pada setiap tahunnya, dan anda bisa yakin ada banyak orang yang ingin agar kita terus percaya bahwa melahirkan merupakan penderitaan berbahaya yang dapat diselamatkan dengan aman melalui keterlibatan medis.

Tidak disangkal bahwa para dokter sungguh menyelamatkan banyak nyawa. Memang banyak keadaan darurat terjadi. Namun tidak setiap kelahiran bersifat darurat dan tidak ada alasan untuk memperlakukan setiap kelahiran itu secara darurat.  Tepat seperti kata Jeannine Parvati Baker, “Melahirkan bukanlah kejadian darurat (emergency). Melahirkan hanyalah kejadian suatu pemunculan (emergence).”

Lalu apa yang menjadi pilihan selain “melahirkan” di rumah sakit- dengan penanganan medis? Banyak yang akan mengatakan untuk melahirkan di rumah dengan bantuan bidan. Benar, bahwa secara utuh, mengenai pengalaman melahirkan, para bidan jauh lebih banyak dipercaya dari pada dokter-dokter. Banyak bidan mengerti mengenai bahayanya keterlibatan medis, maupun akibat buruk dari ketakutan pada tubuh perempuan bersalin. Bidan yang penuh perhatian mampu menawarkan sejumlah besar dukungan perasaan bagi perempuan bersalin yang sangat ketakutan. Meski demikian peristiwa melahirkan yang dibantu oleh bidan bukannya tanpa masalah.

Ketika seorang bidan hadir  pada suatu  peristiwa kelahiran, secara hukum ia bertanggungjawab atas hasil akhirnya. Ketakutan akan tuntutan hukum dapat menyebabkan seorang bidan bahkan yang tidak mau terlibat sekalipun, menjadi terlibat dalam proses melahirkan. Pemecahan selaput ketuban oleh bidan, arahan untuk mengejan atau tidak mengejan – tanpa mempedulikan perempuan bersalin – dan penanganan paksa pada tahap ketiga persalinan (lahirnya ari-ari) merupakan hal yang biasa pada pengalaman melahirkan yang dihadiri seorang bidan. Ada juga sebagian tindakan yang disebabkan oleh kewajiban berdasarkan hukum. Seorang bidan wajib “memantau” persalinan seorang perempuan. Yang secara teknis berarti bahwa (di antara beberapa hal)  ia harus mengukur pembukaan jalan lahir dan waktu kontraksi. Bila seorang perempuan tidak melahirkan dalam waktu dua jam setelah pembukaan jalan lahir/servikal (tidak di semua negara), ia harus dibawa ke rumah sakit. Juga bila ari-arinya tidak lahir dalam waktu satu jam – walau tidak ada bukti yang menyatakan bahwa membiarkan ari-ari tidak lahir dalam waktu lebih dari satu jam dapat menyebabkan sejumlah masalah.

Tentunya, banyak bidan yang mengabaikan tuntutan yang berdasarkan hukum tersebut, dan membiarkan perempuan melahirkan pada waktu mereka dan dengan cara mereka. Di lain pihak, ketika seorang bidan terlibat, sejumlah akibatnya dapat membahayakan.

Beberapa tahun yang lalu ada perempuan di daerahku yang melahirkan hanya beberapa menit sebelum kedatangan bidannya. Proses melahirkannya berjalan dengan baik dan pasangan suami istri yang bersangkutan sangat berbahagia. Ketika bidannya datang, ia mendesak agar ari-arinya dilahirkan SEKARANG. Waktu itu baru lima belas menit setelah kelahiran, dan si ibu mengetahui bahwa ari-arinya belum lepas dari rahimnya. Tetapi ia mengizinkan bidannya untuk mengambil ari-arinya secara manual. Bidannya menarik separuh dari ari-arinya dan si ibu mengalami pendarahan. Akhirnya si ibu dibawa ke rumah sakit dan menikmati paket bermalam selama tiga hari di sana.

Berdasarkan sejumlah surat yang saya terima, meskipun bukan merupakan kejadian yang ditutupi, memang ada beberapa kasus di mana seorang bidan menolong mencegah terjadinya bahaya dalam proses melahirkan. Tetapi berapa banyakkah yang disebut –sebagai sejumlah keadaan hidup atau mati, yang sebenarnya hanyalah merupakan sejumlah keragaman yang wajar dalam pengalaman melahirkan yang memang tidak membutuhkan “pertolongan “ sama sekali?  
Bayi pertamaku lahir dengan wajahnya lebih dulu, bayi keduaku sungsang, lahir dengan kakinya lebih dulu, bayi ketigaku lahir dengan bokongnya lebih dulu, dan bayiku yang terakhir lahir dengan tali pusar mengalungi lehernya. Aku menghadapi semua “kerumitan” ini dengan mudahnya. Bila saya ditolong seorang bidan, mungkin ia juga sudah akan menanganinya dengan mudah. Tetapi mengapa membayar seorang bidan untuk sesuatu yang sangat mampu saya lakukan seorang diri? Saya menolak untuk percaya bahwa peristiwa melahirkan merupakan suatu misteri besar yang tidak mungkin dimengerti oleh perempuan kebanyakan. Bila seorang perempuan berhubungan dengan naluri rohaniah dan naluri ragawinya, ia tidak perlu diberitahu mengenai bagaimana caranya melahirkan, seperti ia tidak perlu diberitahu mengenai bagaimana caranya bercinta/melakukan hubungan seksual atau mengenai cara buang air ke belakang. Peristiwa melahirkan merupakan fungsi alami ragawi yang sangat perlu diperjelas.  

Sudah waktunya para perempuan berhenti menempatkan para dokter dan bidan di podium dan sudah saatnya agar para perempuan mempercayai kemampuan dirinya sendiri. Matahari akan terbit esok hari, rerumputan akan terus tumbuh, dan bayi-bayi kita akan lahir bila kita membiarkannya lahir. Kuncinya adalah tidak mencampuri proses alaminya – baik secara badaniah maupun kejiwaan. Beberapa pengalamanku, dan pengalaman orang-orang lain yang telah memilih untuk melahirkan tanpa pertolongan medis, menggambarkan situasi tersebut sebagai berikut:

Corey Alicks melahirkan bayi pertamanya melalui operasi Cesar. Anak keduanya lahir di rumah dengan bantuan seorang bidan. Ketika ia mengandung anak ketiganya, ia memutuskan merasa nyaman untuk melahirkan tanpa pertolongan medis. Ia menuliskan sejumlah pengalamannya ke dalam cerita mengenainya yang berjudul “Finding the Truth” sebagai berikut:
Kami telah menyiapkan kolam non permanen untuk melahirkan di depan perapian dan surgawi rasanya ketika aku masuk ke dalam kolam air hangat, berendam di ruang gelap tanpa penerangan listrik, hanya terang redup dari perapian. Aku terdiam, merinding ketika memikirkan bagaimana aku menggapai ke dalam tubuhku dan merasakan kepala bayiku; tidak ada cermin, tidak ada orang lain yang melihat, hanya kesatuan yang mutlak, hanya aku; dan ketika aku membayangkan waktu dulu aku terapung tertahan di dalam air di kolam kelahiran, aku mengejankan Eva keluar ke dalam-air tanpa cahaya-yang sama, di mana kami berdua dilahirkan. Kami menyaksikannya, masih berada di bawah permukaan air, kedua lengannya terentang, terapung, memandangi kami, tubuhnya bercahaya dengan cahaya yang bukan duniawi. Peter berlutut di lantai di sisi kolam, dan perlahan aku membawa bayi kami ke permukaan air. Saat itu merupakan saat tersuci di dalam hidup kami. Putriku bernafas dengan alaminya dan tanpa suara sedikitpun.

Pengalaman melahirkan Corey berikutnya bahkan lebih mengagumkan. Sekali lagi, ia melahirkan di dalam kolam kelahiran di depan perapian, namun kali ini ia melahirkan bayi kembar sendirian!

Para perempuan bukanlah satu-satunya pihak yang memperoleh manfaat dari proses melahirkan tanpa pertolongan medis. Carl Norgauer telah menulis tentang kebahagiaan ketika ia menangkap bayinya sendiri ke dalam cerita mengenai dirinya yang berjudul: “A Bond of Admiration and Love” sebagai berikut:

Setelah lima jam waktu persalinan, akhirnya Lilana meluncur keluar ke dalam kedua tanganku yang menantinya. Ia dilahirkan sampai ke pinggulnya, dan ketika berhenti sejenak, ia melingkarkan tangan kecilnya pada satu jari dari jemari tanganku dan erat berpegangan, saat itu terjalinlah suatu ikatan yang mengagumkan juga cinta dua arah yang akan berlangsung hingga kematianku. Beberapa saat kemudian ia sepenuhnya terlahir dan memaklumkan ketibaannya dengan tangisannya yang kuat dan menghangatkan kediaman kami. Betapa membahagiakannya. Kami telah bermitra dengan Tuhan oleh seorang gadis yang cantik … Untuk beberapa bulan lamanya, kami berbahagia dan bergembira. Pengalaman dari peristiwa melahirkan ini telah membangun suatu masa yang luar biasa teruntuk kesatuan, pengasuhan, dan perawatan penuh cinta dan merupakan titik puncak dari kehidupanku.

Ada satu orang lain untuk dipertimbangkan ketika memutuskan cara terbaik untuk melahirkan. Tidak banyak orang memikirkan tentang kenyataan bahwa mungkin bayi-bayi memiliki kesukaannya sendiri mengenai bagaimana caranya mereka akan dilahirkan. Sam Woods merasa bahwa putrinya, Luca, sebenarnya mengarahkannya untuk melahirkan tanpa pertolongan medis. Dalam situsnya “Journey to Divine Childbirth” ia menulis:
Bagaimana aku menjabarkan bahkan memulai bercerita tentang pengalamanku melahirkan di rumah? Tentunya kenyamanan dari kehadiran suami dan suasana rumah yang membuat betah, kebebasan dari keterlibatan medis yang membahayakan, kebahagiaan, persalinan yang tidak menyakitkan dan kenikmatan seutuhnya dari pengalaman melahirkan anakku ke dalam kedua tanganku sendiri. Namun sesungguhnya lebih banyak dari itu semua. Peristiwa itu merupakan pengalaman hubungan rohaniah terdalam yang pernah kubuat. Aku menggapai ke dalam keberadaanku yang paling dalam dan menemukan kekuatan tenaga jiwaku, yang memilih keyakinan di atas ketakutan, yang sungguh-sungguh mendengarkan suara batin yang mengatakan, “Ikutilah terang itu!” Aku mengikutinya dan menemukan mukjizat. Aku menemukan sumber cinta yang tiada berbatas, dan kutemukan Lucaku yang berharga. Dialah sinar yang kuikuti. Aku percaya bahwa Luca memilih pengalaman melahirkan yang luar biasa ini dan menuntunku ke dalam keputusanku. Bayi-bayi kami begitu membahagiakan dan kecerdasannya tidak berbatas. Aku berdoa agar kami dapat membantu mereka memelihara hubungan mereka yang membahagiakan itu, dan aku berterima kasih pada Luca untuk pertolongannya padaku untuk menemukan diriku. 

Sudah duapuluh sembilan tahun sejak melahirkan tanpa pertolongan medis yang pertama aku alami, dan sudah duapuluh tahun sejak yang terakhir. Mungkin hari-hariku membuat bayi sudah berlalu. Tetapi kelahiran anak-anakku akan selamanya mengesan di dalam ingatanku. Aku tidak akan pernah melupakan kebahagiaan ketika menangkap bayi-bayiku di dalam ketenangan dan kesucian rumahku sendiri. Hal ini merupakan kebahagiaan yang aku harap dapat diketahui setiap pasangan.

* * * * * * * * *

Aku menikmati pengalaman melahirkan anak. Aku mengalaminya sebagai peristiwa yang luar biasa menggetarkan dan membahagiakan, seksual dan rohaniah, ajaib dan penuh mukjizat! Yang merupakan TENAGA YANG SANGAT KUAT di dalam wujudnya yang murni, dan bagiku, merupakan tindakan penuh daya cipta.
Aku lebih memilih untuk melahirkan baik dengan suami ataupun anak-anakku. Keempat anakku semuanya dilahirkan dengan cara ini. David menangkap anak pertama, dan aku menangkap tiga lainnya. Hal ini mungkin terdengar gila bagi mereka yang dibesarkan dalam budaya yang secara turun-temurun memandang pengalaman melahirkan sebagai peristiwa membahayakan dan  menyakitkan.  Ada saat di mana aku sependapat, namun itu sebelum aku memahami kebenaran tentang peristiwa melahirkan. 

Ada dokter berkebangsaan Inggris yang juga penulis, Grantly Dick-Read, yang pertama kali membuka kedua mataku pada keamanan dan keindahan  peristiwa melahirkan. Dick-Read yang menulis dan berpraktek pada paruh pertama abad ke duapuluh, luas dikenal sebagai salah satu bapak dari kelahiran anak secara alami. Singkatnya, Dick-Read meyakini adanya suatu kesadaran yang penuh cinta, cerdas di balik dan di dalam seluruh kehidupan. Kesadaran ini mengerti cara menumbuhkan bayi di dalam keberadaan kita. Kita tidak harus “menolong”- nya dengan kesadaran penuh, tidak harus mengetahui cara menumbuhkan jemari tangan dan jemari kaki, kedua telinga dan kedua mata. Kita hanya harus percaya begitu saja bahwa selama kita memperoleh udara segar dan berolah raga, memperoleh tempat berlindung dan makanan, sel telur yang subur di dalam kita akan bertumbuh menjadi seorang manusia, dan karena alam ataupun Tuhan sangat mampu untuk mengatur dengan baiknya – menggenapi apa yang sudah dimulainya – begitu juga pada peristiwa melahirkan.

Dengan kata lain, kita tidak tiba-tiba ditelantarkan begitu saja pada akhir kehamilan kita. Tepatnya ada suatu “ tanggapan” dari proses kelahiran yang besar kekuatan tenaganya mendorong bayi-bayi kita dari dalam rahim ke dalam dunia dengan sedikit saja usaha yang disadari dari pihak kita. Masalahnya adalah, ada sesuatu yang bahkan lebih besar kekutan tenaganya daripada tanggapan proses kelahiran, sesuatu yang bisa mengendalikannya secara menyeluruh. Sesuatu itu adalah yang diketahui sebagai tanggapan untuk melawan/melarikan diri.

Dick –Read menjelaskan hal ini sebagai berikut: Ketika seorang perempuan ketakutan, sejumlah pesan yang terkirim ke tubuh memberitahukan adanya bahaya di luar sana yang harus diperangi atau tubuh harus lari dari bahaya itu. Darah dan oksigen langsung terkirim ke dalam susunan otot dan memampukan perempuan yang ketakutan itu untuk memerangi atau lari dari bahaya itu. Untuk itu, darah dan oksigen harus dikuras dari anggota tubuh lainnya yang tidak dianggap penting untuk dapat melakukan tindakan darurat/“perlawanan atau melarikan diri.” Itu sebabnya mengapa wajah perempuan menjadi putih pucat ketika ketakutan. Tubuh menganggap kulit tidak penting untuk tindakan perlawanan maupun melarikan diri. Tubuh mengerti bahwa kedua lengan dan kaki lebih membutuhkan darah dan oksigen daripada kulit.

Sayangnya, rahim juga merupakan anggota tubuh yang tidak dianggap penting untuk perlawanan dan melarikan diri. Menurut Grantly Dick-Read, penulis buku Melahirkan Anak tanpa Ketakutan, rahim dari seorang perempuan yang ketakutan biasanya berwarna putih. Tanpa “tenaga”, rahim tidak dapat bekerja dengan semestinya, kelangsungan pembuangan limbahpun juga tidak dapat berfungsi dengan semestinya.
Dengan demikian, perempuan bersalin tidak hanya mengalami kesakitan, namun juga sejumlah besar masalah. Dick-Read percaya bahwa pemecahan masalahnya secara bersamaan ada pada dua hal yaitu: bukan hanya perempuan yang perlu berhenti ketakutan, namun dokter juga perlu berhenti terlibat di dalam proses persalinan. Perempuan bersalin tidak memerlukan tusukan, penyodokan, dan pemberian obat-obatan. Sebaliknya, dengan ketenangan mereka perlu dikuatkan, atau dibiarkan sendirian tanpa gangguan sehingga tubuh mereka dapat bekerja tanpa hambatan.
(Untuk memperjelas gambaran mengenai hal ini, bayangkanlah bila pada saat yang sama seseorang/anak anda ke kamar kecil di mana anda tengah buang air kecil dan atau b.a.b, apakah anda merasa nyaman dan proses berkemih anda berjalan lancar?).

Banyak binatang yang mengerti teori ini secara naluriah. Ini sebabnya maka mereka mencari ketenangan suasana pada saat melahirkan. Mereka “memahami” bahwa ketika proses melahirkan terganggu oleh penolong, persalinan akan berhenti atau bayinya bisa mati. Ini nyata baik pada binatang peliharaan rumah maupun hewan di alam bebas. Buku Pegangan Perawatan Kucing yang ditulis oleh Purina menyarankan para pemilik kucing peliharaan agar memberi kenyamanan bagi kucing betina yang bersalin dan membiarkannya sendirian. Mungkin kucing betinanya akan berdiam di dalam kotak; di lain pihak, tidak usah terkejut bila tidak demikian. Hal terbaik yang perlu dilakukan pada titik ini adalah tidak melakukan apapun. Tetap tenang dan jangan mencoba membantunya – persalinan itu adalah urusannya. Alam biasanya mengambil alih pemeliharaan pada titik ini dan merupakan sesuatu yang mengagumkan untuk menyaksikan cara hewan itu melahirkan secara alami. Sayangnya, buku tersebut tidak ada dalam daftar wajib bacaan di kebanyakan sekolah kedokteran! Para dokter diajarkan untuk terlibat dalam proses melahirkan, dan merekapun terlibat.


VI.Jangan Paksa Sungai  untuk Mengalir, Sungai Mengalir dengan Sendirinya
Oleh Laura Shanley
-Betapa dahsyatnya perasaan yang dc alami yang berasal dari kontraksi rahim yang ‘mengajak dc’ merasakan gerakannya, yang mengizinkan dc menyuarakan ISTIMEWANYA gerakan rahim luar biasa itu sebebas-bebasnya ... “Hngngngngngng ...h, membiarkannya melahirkan bayi dc, ... Saat-saat di mana dc membiarkan rahim dc melaksanakan tugas/fungsi alaminya sendirian (walaupun kali ini tidak berhasil sepenuhnya), sangatlah mengagumkan.-dC gloria-

Hanya sedikit yang diketahui mengenai fakta bahwa di samping satu atau dua dorongan ringan saat mengejan pada detik-detik akhir persalinan, dorongan untuk mengejan secara paksa (mengejan saat seorang perempuan tidak merasa ada dorongan untuk mengejan) tidak diperlukan atau bahkan tidak disukai perempuan bersalin. Pepatah “Jangan paksa sungai untuk mengalir, sungai mengalir dengan sendirinya”, sangat tepat berlaku untuk persalinan. Dalam artikelnya Nancy Tatje-Broussard menulis, “Tahap Kedua Persalinan: Anda tidak perlu mengejan,” Proses melahirkan tidak perlu menjadi urusan yang mendesak. Proses melahirkan dapat menjadi suatu peristiwa pengungkapan yang lembut di dalam keserasiannya dengan irama alami kehidupan.” (Mothering, #57)

Tatje-Boussard mulai mempelajari pemikiran mengenai mengejan setelah seorang kawannya yang lebih tua menceritakan kisahnya  waktu ia terbaring melahirkan dengan bantuan medis pada waktu 20 tahun sebelumnya. Kawannya itu diberikan pembiusan seluruh tubuh/anastesi umum yang telah menjadikannya tidak sadarkan diri di sepanjang waktu persalinannya, namun pada waktu ia terjaga ia melihat kepala putrinya muncul. Segera ia memanggil para perawat yang saat itu sedang main kartu di dekat meja.

Tatje-Boussard bertanya-tanya, bila perempuan mampu melahirkan dengan mudahnya ketika mereka dalam keadaan tidak sadarkan diri, mengapa perempuan harus mengeluarkan dan menggunakan tenaga yang sangat besar ketika sadarkan diri? Ia menemukan bahwa hingga pada tahun 20an perempuan tidak diinstruksikan untuk mengejan selama tahap kedua persalinannya. (Tahap kedua adalah waktu di antara pembukaan lengkap pada jalan lahir dan kelahiran bayi.) Di sekitar waktu itu/tahap kedua persalinan, para dokterlah yang “menentukan” bahwa tahap kedua tersebut membahayakan bagi bayi yang akan lahir. Mereka berharap, dengan mengejan, akan mengeluarkan bayi lebih cepat. Pada satu saat, para ibu bahkan diberitahu untuk mengejan begitu persalinan dimulai.

Pada pertengahan tahun 50an banyak orang mulai menyadari pentingnya penenangan selama tahap pertama persalinan. Di lain pihak, tahap kedua persalinan merupakan dan akan selalu menjadi hal yang berkaitan dengan usaha ragawi yang luar biasa. Para dokter, perawat, bidan dan “pelatih proses melahirkan” seringkali mendorong seorang perempuan untuk mengejan bahkan ketika ia tidak merasakan dorongan untuk mengejan. Pada tahun 80an bukti ilmiah menunjukkan bahwa tahap kedua persalinan tidak membahayakan bagi bayi namun sebenarnya membantu merangsang pencernaan, sistem pembuangan dan pernafasan bayi. Pada kenyataannya, mengejan dapat membahayakan baik ibu maupun bayinya. Karena dengan demikian oksigen tidak mengalir ke rahim yang akibatnya makin mempersulit kontraksi dan menambah kesakitan. Oksigen juga tidak mengalir ke bayinya. Ini dapat menyebabkan melambatnya detak jantung bayi dan memungkinkan terjadinya kerusakan otak.

Susan McKay menyetujuinya. Dalam tulisannya, “Humanizing Birth in a Technological Society,” ia menulis, “Mendesak seorang perempuan untuk mengejan lebih kuat dan lebih lama, pada kenyataannya memperburuk keadaan di mana kepala bayi dan tali pusar bayi tertekan selama berlangsungnya usaha ibu mengejan, menyebabkan melambatnya detak jantung bayi dan habisnya oksigen.” (Dikutip dari Birth as an American Rite of Passage oleh Robbie Davis-Floyd)

Perobekan perineum/daerah di antara liang vagina dan dubur lebih umum terjadi pada perempuan yang mengejan terlalu lama dan penelitian menunjukkan bahwa mengejan tidak selalu mempercepat kelahiran bayi.

Penulis dan Bidan Ina May Gaskin dalam artikelnya yang berjudul “Childbirth the Amish Way” menulis mengenai suatu kelahiran yang dihadirinya di dalam suatu kelompok masyarakat Amish.
Segera setelah ada tanda untuk mengejan, kepala bayinya muncul. Satu-satunya tanda bahwa ia mengejan hanyalah satu tarikan nafas ringan. Ia tidak bersuara ataupun mengerutkan wajahnya. Delapanbelas kelahiran lainnya sungguh telah mengajarinya cara membiarkan rahimnya bekerja sementara selebihnya dari keberadaannya melakukan bagiannya dengan semudah mungkin. (Mothering, # 43)

Jan Fletcher menyampaikan sejumlah pengalamannya ketika melahirkan kepada Mothering, dengan judul “No More Professional Pushers.” (Tidak Ada Lagi Mengejan Cara Profesi Medis).”
Pengalaman melahirkanku yang pertama ditemani oleh paduan suara berisik yang berbunyi “Ngeden! Ngeden! Ngeden!” setidaknya selama 30 menit. Sebagai ibu melahirkan yang tidak berpengalaman, aku sungguh-sungguh menanggapi kata-kata mereka … Lima orang meneriaki aku agar aku mengejan, dan dalam usahaku meredakan keberisikan itu, aku mengejan dengan kuatnya hingga mematahkan tulang ekorku. Untuk pengalaman melahirkanku yang kedua, aku memutuskan untuk tidak akan mengejan samasekali. Bila bayinya perlu waktu untuk keluar, biarlah itu terjadi. Tentunya, kelahiran kedua juga ditemani paduan suara Ngeden! Ngeden! Ngeden!” – hanya saja kali ini aku tidak menghiraukannya. Dengan bernafas tanpa bersuara, tenang, dan masih sedikit bergetar bersama setiap nafas yang diperlukan peristiwa itu, Jessica lahir dan tulang ekorku utuh yang dengan demikian membebaskan aku dari enam minggu kesakitan setelah melahirkan. (Mothering, #49)
Melahirkan tidak berbeda dari ketika kita merasakan gerakan saluran pencernaan bagian bawah/ketika buang air besar. Pada gerakan organ pelepasan yang normal ketika b.a.b, seseorang membiarkan tubuh mengerjakan tugasnya. Sekali kotoran memasuki dubur, hanya sedikit tindakan mengejan yang diperlukan untuk mengeluarkannya. Pemikiran bahwa persalinan harus merupakan “suatu kerja berat! Pekerjaan terberat yang pernah kulakukan dalam hidupku, “ (sesering yang aku dengar dari perkataan perempuan) sesungguhnya merupakan kesalahan. Kenyataannya penulis Pat Carter yakin, baik perempuan maupun rahimnya tidak perlu bekerja berat untuk melahirkan bayi:
Sesuai caranya, diperlukan sedikit saja tenaga dari bagian atas rahim/fundus untuk mengeluarkan bayi dengan keberhasilan dan kebahagiaan, ketersediaan pereda rasa kesakitan, belum membangun perlawanan terhadap usaha/tenaga fundus tersebut. Sebenarnya, bila ada sedikit lagi saja tenaga dibanding tenaga yang dihasilkan dinding usus besar untuk menjalankan fungsinya mengeluarkan kotoran – tenaga itu lebih sedikit dari tenaga yang digunakan untuk bersin.  (Come Gently Sweet Lucina)

Pada suatu tingkat menyenangkan yang lebih berkeindahan, melahirkan dapat dibandingkan dengan gambaran tentang pencapaian puncak kenikmatan seksual. Yang lebih merupakan masalah “membiarkan”-nya terjadi ketimbang “membuat”-nya terjadi.

Ini tidak berarti bahwa bila seorang perempuan bersalin merasakan dorongan untuk mengejan lalu ia harus mengabaikan perasaannya itu. Namun berarti bahwa ia tidak harus merasa mesti mengejan hanya karena ia diberitahu bahwa bayinya harus lahir dengan mengejan seperti itu.

Melahirkan merupakan tindakan berdaya cipta tinggi, dan seperti tindakan berdaya cipta tinggi lainnya, tidaklah dapat dipaksa untuk membenarkan sejumlah batasan waktu keberadaban/masyarakat yang tidak alami. Desakan untuk mengejan pada persalinan sebenarnya merupakan cerminan perilaku budaya kita yang mendahulukan paksaan dan tindakan terburu-buru daripada percaya dan bersabar.

* * * * * * * *


VIII.Cara Mengenali Keadaan Darurat yang Sesungguhnya dan Menangani Kerumitan Masalah
Oleh Heather B

Keragaman yang wajar dan jarang terjadi, bukanlah keadaaan darurat. –dC gloria- 
Melahirkan adalah peristiwa pemunculan (emergence) bukan sebanyak-banyaknya peristiwa darurat (emergency). -Jeannine Parvatti Baker-

Judul tersebut merupakan satu hal yang sering ditanyakan sehubungan dengan melahirkan tanpa bantuan medis. Bahkan ibu hamil yang merencanakan kelahiran demikianpun mengkhawatirkannya. Yang benar adalah bahwa 90% persalinan merupakan persalinan yang bebas kerumitan/masalah. Untuk setiap 1000 kelahiran yang hidup, hanya 6,50 bayi yang akan meninggal pada tahun pertama kehidupannya. Termasuk karena masalah kesehatan Sindrom Kematian Bayi secara Mendadak, sejumlah kecelakaan, reaksi vaksin yang tidak diharapkan, kelahiran dini/prematur. Maka kematian bayi anda kecil kemungkinannya. Angka kematian di dalam rahim di Amerika Serikat 1 di antara 115 kelahiran, lebih sedikit dari 1%. Penyebab utamanya  adalah infeksi, kecacatan, keterlambatan pertumbuhan, diabetes pada masa pembuahan, tekanan darah tinggi pada ibu hamil, penggunaan obat-obatan oleh ibu hamil, kehamilan yang melampaui perkiraan waktu melahirkan, trauma ragawi/fisik, lepasnya ari-ari dari rahim, keracunan akibat radiasi, penyakit ketidakcocokan darah ibu dan bayi,  dan sejumlah kejadian tidak terduga/kecelakaan pada tali pusar. Sejumlah kematian yang ada dikarenakan beberapa masalah yang terjadi selama persalinan dan melahirkan.  

Banyak orang menyimpulkan bahwa bila bayi dari seorang perempuan yang melahirkan tanpa bantuan medis meninggal, maka itu merupakan kesalahan ibu yang tidak mendapat bantuan dokter. Ini sama sekali tidak benar. Kebanyakan bayi yang meninggal di rumah, juga akan meninggal di rumah sakit. Sangat besarnya jumlah kematian di dalam rahim, sudah terjadi di dalam rahim sebelum dimulainya persalinan. Kebanyakan berhubungan dengan sejumlah masalah yang tidak dapat dirawat, hanya ditangani –atau tidak dapat ditangani sama sekali. Bahkan perawatan untuk masa awal setelah kelahiranpun tidak akan menyelamatkan seorang bayi dari keadaan sekarat di dalam rahim. Sepertinya seorang dokter akan menyarankan untuk mempercepat kelahiran bila nyawa seorang bayi diduga terancam bahaya pada masa selama kehamilan, dan tindakan percepatan ini biasanya sama berbahayanya bagi bayi.  

Ada saat-saat di mana mungkin dapat mengancam nyawa bayi. Banyak di antaranya dapat ditangani di rumah, dan banyak yang akan memerlukan perawatan di rumah sakit. Para ibu hamil belajar mengenali sejumlah keadaan ini, belajar untuk menanganinya, dan belajar mengerti kapan saatnya perlu ke rumah sakit. Kerumitan masalah persalinan baik itu bersalin di rumah sakit maupun bersalin di rumah nampaknya sama-sama dapat menyebabkan kematian seperti yang selama ini sudah dipelajari ibu hamil. Kebanyakan masalah dapat ditangani oleh ibu hamil hanya dengan mengikuti perasaannya/intuisinya. Kematian karena tindakan seorang ibu jarang terjadi, namun sering terjadi dikarenakan sejumlah hal di luar kendali ibu hamil (dikarenakan kendali dari orang lain).

Di rumah sakit, satu-satunya tanda bahwa seorang bayi dalam bahaya adalah perubahan warna pada cairan ketuban atau melambatnya detak jantung bayi. Sejumlah tanda ini juga dapat dikenali di rumah. Seorang ibu sangat mampu untuk mengetahui hal ini apabila cairan ketubannya berwarna hijau. Ia dapat mendengarkan dengan bantuan alat Doppler atau fetocsope, dan bila nampaknya ada sesuatu yang tidak baik terjadi, ia dapat pergi  ke rumah sakit – kemudian menelpon pihak rumah sakit untuk menyiagakan mereka. Biasanya memakan waktu 15 menit untuk mempersiapkan operasi Cesar segera setelah beberapa saat ketibaannya di rumah sakit. Kadang-kadang, bisa saja terlambat, namun ini dapat juga terjadi bahkan ketika ia memang di rumah sakit. Untuk alasan ini, banyak ibu tidak akan mencoba untuk melahirkan tanpa bantuan medis bila rumah sakit berlokasi jauh dari rumahnya.    

Satu tanda bahwa ada sesuatu yang tidak baik terjadi adalah pendarahan yang berlebihan selama atau sesudah persalinan. Ini bisa berarti sejumlah masalah terjadi pada ari-ari, seperti ari-ari yang melekat terlalu dalam pada dinding rahim atau terlepasnya ari-ari dari rahim, yang membahayakan bayi karena bayi tidak memperoleh oksigen dan membahayakan ibu karena pendarahannya. Ini juga dapat berarti bahwa ibu hamil memang sudah mengalami pendarahan dan bisa meninggal karena pendarahan yang terus-menerus. Bila itu terjadi pada waktu persalinan, seorang ibu harus pergi ke rumah sakit. Ia harus tidak menggunakan obat mengatasi pendarahan untuk rasa sakitnya. Ada sejumlah ramuan alami yang dapat digunakan untuk membantu menangani perdarahan. Bila itu terjadi setelah melahirkan, mungkin si ibu menderita perdarahan. Banyak kasus dapat ditangani dengan sejumlah ramuan alami disertai istirahat. Bila pendarahannya parah dan berlanjut, bila ibu kejang atau merasa ingin pingsan, ia harus segera dibawa ke kamar perawatan untuk keadaan gawat darurat.

Placenta praevia merupakan keadan di mana ari-ari menutupi jalan lahir, menghalangi jalan keluar bayi. Biasanya selama waktu persalinan ibu hamil dapat merasakan bayi tidak kunjung keluar. Seringkali ibu hamil dapat merasakan ari-ari ketika memeriksa vagina/liang kemaluan. Bercakan noda/spotting selama kehamilan bisa jadi merupakan tanda bahwa ari-arinya menutupi jalan lahir bayi. Keadaan ini dapat diketahui dengan bantuan alat Doppler atau fetoscope. Seorang ibu dapat belajar untuk membedakan antara detak jantung, suara tali pusar, dan suara ari-ari. Ia juga dapat merasakan denyutan pada perutnya untuk merasakan letak ari-arinya. Seringkali ibu hamil akan mewaspadai keadaan ini sebelum persalinan mulai terjadi. Keadaan ini dapat menuntut tindakan operasi Cesar. Kemungkinan ini terjadii sebesar 0.5 % dari seluruh angka persalinan dan ini bukanlah merupakan suatu keadaan darurat. Biasanya para ibu mungkin akan mengalami pendarahan dengan kondisi tersebut, tetapi biasanya bayi dilahirkan dengan baik melalui operasi Cesar.    

Keadaan darurat persalinan lainnya adalah tali pusar yang turun, di mana letak tali pusar mendahului bayinya. Bila ibu hamil dapat merasakan tali pusar pada liang kemaluannya, atau bila tali pusar jatuh ke dalam jalan lahir sebelum keluarnya bayi, ia akan memerlukan operasi Cesar. Tali pusar bisa terjepit, memutus penyediaan oksigen bagi bayi. Ibu hamil harus berusaha mengembalikan tali pusar ke dalam rahimnya. Ambulans harus segera didatangkan. Ibu hamil harus berbaring dengan kedua sikut di sisi kanan dan kiri tubuhnya, dengan kedua kaki dan punggungnya terangkat sejauh mungkin. Posisi ini  akan menggunakan daya tarik bumi untuk menjaga bayi agar tidak menghimpit tali pusar. Bila kelahirannya akan segera terjadi, dan bayinya muncul keluar, ia harus melanjutkan proses melahirkan. Bila tidak, ia perlu menunggu ambulans dan ke rumah sakit untuk operasi Cesar.

Terhentinya proses keluarnya kedua bahu bayi terjadi ketika bayi macet di jalan lahir, bahunya tidak mau keluar melalui panggul. Bayi beresiko menderita kegelisahan  mendalam, karena tali pusar mungkin saja terhimpit dan menghentikan penyediaan oksigen bagi bayi. Keadaan ini harus ditangani secepatnya namun tidak ada alasan untuk panik. Pada banyak kesempatan, bayi dapat dikeluarkan bila ibu melahirkan mengubah posisinya: berjongkok, berguling sedikit, berdiri, bertumpu pada kedua tangan dan kedua lutunya, atau hanya dengan melebarkan panggulnya. Bila ini tidak berhasil, seseorang dapat mencoba membantu mengeluarkan bayinya dengan perlahan. Kedua tangan harus diletakkan pada kedua bahu, dan bayi harus diputar dengan lembut—dikeluarkan seperti mengeluarkan gabus penyumbat botol. Cara lain adalah dengan mengeluarkan satu bahu kemudian diikuti bahu berikutnya. Penolong juga bisa menekan kedua bahu bayi untuk memperkecilnya sedikit. Bila tidak berhasil, seseorang harus menghubungi nomer telepon darurat sementara ibu hamil berusaha untuk melahirkan. Masalah ini biasanya teratasi tanpa operasi Cesar, namun bisa menjadi masalah darurat—bahkan di rumah sakit.   

Pertanyaan lain yang biasa ditanyakan adalah: Bagaimana bila bayinya tidak bernafas? Bila bayinya ungu, merah atau merah muda, atau pucat, jaga agar bayi tetap hangat. Pegang bayi dengan sentuhan kulit. Bicaralah kepadanya. Usaplah punggungnya untuk merangsangnya. Letakkan kedua paha bagian atas pada wajahnya  dengan posisi bokongnya lebih tinggi daripada kepalanya untuk membantu pengeluaran lendirnya. Beri ia waktu sebentar. Bila ia tidak bereaksi aktif, tidak bernafas, mulailah memberi pernafasan buatan/CPR. Gosoklah kakinya, usapkan obat gosok terlarut dalam alkohol/cayenne pada bibirnya, atau bahkan memberi pukulan keras pada bayi yang dapat membantunya bernafas. Bila bayi biru pucat, putih, lunglai, atau tampak meninggal, sedot hidungnya, mulailah memberikan CPR, dan hubungi nomor telepon darurat. Banyak ibu menyewa tabung oksigen agar mereka dapat memberikan oksigen pada bayi bila diperlukan.

Terbaliknya letak rahim jarang terjadi. Ini terjadi bila rahim terbalik dan turun di jalan lahir setelah bayinya lahir. Ini dapat diatasi dengan membulatkan tangan anda menjadi seperti bentuk ikan, lalu dengan lembut dekatkan dengan liang kemaluan, dan tekan rahim ke atas melewati jalan lahir. Ini sangat menyakitkan. Rahim yang terbalik meningkatkan resiko pendarahan pada ibu. Banyak ibu yang menderita kerumitan masalah ini harus ke rumah sakit.

Bila terdapat kotoran bayi di dalam air ketuban, atau bila air ketuban berubah warna, maka resiko terjadinya infeksi pada bayi anda meningkat. Bagaimanapun, ini bukan jaminan bahwa sesuatu yang buruk terjadi. Bayi harus dilahirkan dan dimandikan. Bila bayi tampak membutuhkan perhatian medis, segeralah membawa bayi anda ke klinik. Keadaan ini bukanlah darurat atau masalah yang rumit. Dengan perawatan sesudah melahirkan, seharusnya keadaan bayi baik-baik saja bahkan bila bayi sudah sempat menghirup kotorannya.

Kebanyakan orang takut bila tali pusar mengalungi leher bayinya. Ini bukanlah keadaan darurat dan bukan merupakan hal luar biasa! Tali pusar yang mengalungi leher bayi terjadi sekitar 30% dari angka kelahiran. Biasanya tidak menyebabkan kerusakan dan cukup longgar sehingga ibu dapat melepaskannya dari leher bayi atau menggulingkan bayi ke posisi terlentang segera setelah ia lahir. Bila tali pusar cukup kuat melilit leher bayi, lilitan dapat menghentikan aliran udara ke bayi. Dalam keadaan seperti ini kedua orang tua dapat menggunting tali pusar dan mendorong bayi keluar secepat mungkin. Banyak cerita mengenai kelahiran tanpa bantuan medis termasuk para ibunya yang menyebutkan bahwa mereka terpaksa harus melepaskan lilitan tali pusar dari leher bayi mereka. Anak laki-lakiku lahir dengan tali pusar yang renggang meliliti lehernya. Dokter memotong tali pusarnyanya begitu saja, dan selesai! Tali pusar harus tidak dipotong kecuali bila perlu, karena tali pusar membantu penyediaan oksigen bagi bayi.

Koyak lebih sedikit terjadi di rumah namun di rumah sakit juga dapat terjadi. Kebanyakan koyak ringan dan akan sembuh dengan sendirinya. Banyak ibu yang menangani koyak yang parah dengan merekatkan bagian yang koyak menggunakan lem (yang biasa digunakan di rumah sakit, misalnya: dermabond) berdaya rekat kuat. Bagaimanapun juga, banyak ibu yang mengalami koyak yang parah sembuh dengan sendirinya. Bila dikehendaki, ibu bisa ke rumah sakit untuk dijahit, namun ini bukan alasan untuk panik. 

Banyak hal yang kita kenali sebagai masalah namun sebenarnya merupakan kejadian yang wajar yang tidak terlalu sering terjadi. Banyak peristiwa selama persalinan dapat ditangani oleh ibu hamil sendirian, dan ia bahkan dapat belajar memperhitungkan resiko kerumitan masalah persalinan/melahirkan. Kebanyakan ibu akan memecahkan permasalahan ini menggunakan sejumlah hal yang sudah mereka pelajari melalui penelitian dan meyakininya dengan intuisi/nalurinya. Seringkali, bila tindakan seorang ibu tidak dapat menyelamatkan nyawa bayinya, begitu pula dengan tindakan oleh para dokter, kecuali dalam keadaan tertentu yang langka (kelahiran cacat, kelahiran dini, dll.) Memang ada keadaan darurat yang menuntut perawatan rumah sakit dan bahkan menuntut kelahiran melalui operasi Cesar. Para ibu yang merencanakan melahirkan tanpa bantuan medis belajar mengenali keadaan darurat tersebut dan belajar untuk tahu cara mengatasinya. Mereka juga tahu kapan waktunya harus dan harus tidak melahirkan bayinya di rumah. Jawaban sederhana untuk pertanyaan “ Bagaimana bila sesuatu yang buruk terjadi?” adalah “Ibu bersalin (melahirkan) dan atau pasangannya akan siap untuk menanganinya.”



IX.Melahirkan melalui Vagina sesudah Melahirkan melalui Operasi Cesar/VBAC dan Percepatan Kelahiran dengan Obat: Menolong atau Menghambat?
Oleh Jennifer Jamison Griebenow, ICAN-Bluegrass
- T (saya): “Apakah anda setuju bahwa robeknya rahim pada bekas luka operasi Cesar, kebanyakan disebabkan oleh penggunaan obat percepatan dan atau penguatan persalinan?”
  J (obsgyn): “Ya. Pada kenyataannya memang begitu.”

Anda sedang mengandung dan usia kandungan anda 38 minggu. Anda mau melahirkan melalui vagina sesudah pengalaman melahirkan melalui operasi Cesar/VBAC. Penyedia perawatan anda sudah menyetujui rencana anda. Sekarang ia menyarankan agar kelahiran bayi anda dipercepat melalui proses percepatan/induksi supaya memperbesar kemungkinan berhasilnya VBAC anda. Apakah ini yang anda mau?

Induksi diindikasikan secara medis hanya bila anda atau bayi anda mengalami masalah spesifik kesehatan, seperti diabetes mellitus atau tekanan darah tinggi. Tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa induksi rutin memberi manfaat lebih pada hasil akhir kelahiran. Sayangnya, percepatan kelahiran ini sudah menjadi hal biasa bagi para ibu, VBAC dan semacamnya, lepas dari minimnya mengandalkan bukti atas manfaat tindakan induksi. Banyak tindakan induksi yang bukan merupakan pilihan alami terjadi hanya karena tindakan ini luas digunakan di Amerika Serikat. Ada banyak sebab di mana induksi sesungguhnya mengarahkan anda untuk mengalami pengulangan operasi Cesar, bukannya menolong anda untuk berhasil melaksanakan VBAC.

a.Angka Operasi Cesar
Sejumlah penelitian membuktikan bahwa secara umum, induksi malahan meningkatkan angka operasi Cesar dan bukannya menurunkan angka itu. Pada penelitian VBAC baru-baru ini yang menggunakan data dari tahun 1997 sampai dengan tahun 1999, angka kelahiran melalui vagina lebih tinggi di antara kelompok kelahiran spontan daripada di antara kelompok kelahiran dengan induksi. Hanya 50% dari sejumlah induksi itu yang menolong keberhasilan VBAC. Pada penelitian lainnya, resiko operasi Cesar 1,5% lebih tinggi pada sejumlah persalinan yang diinduksi daripada pada persalinan yang spontan. Percepatan/induksi pada percobaan VBAC untuk pertama kalinya pada ibu bersalin, meningkatkan angka pengulangan operasi Cesar.

b.Sejumlah Manfaat Persalinan Spontan
Tubuh mempersiapkan kelahiran dengan melepaskan sejumlah hormon yang melenturkan tulang dan jaringan dalam panggul/pelvis untuk mempersiapkan ibu melahirkan. Sejumlah hormon tersebut secara mengagumkan meningkat pesat pada hanya beberapa saat sebelum persalinan alami mulai terjadi. Sejumlah bahan induksi dan Pitocin tidak dapat menghasilkan dampak baik seperti ini. Selain itu, ketika bersalin, yang paling membantu adalah bila anda dapat bergerak bebas dan merasakan bahwa anda dapat menanggung sejumlah kontraksi. Situasi persalinan seperti ini jarang mungkin terjadi dengan penggunaan induksi, karena biasanya tindakan induksi membuat ruang gerak anda terbatas di tempat tidur dan anda diawasi. Banyak perempuan akhirnya mengetahui bahwa bersalin dengan berbaring di tempat tidur meningkatkan kesakitan yang mereka rasakan. Selain itu, daya tarik bumi tidak membantu anda ketika bersalin dalam posisi seperti itu.

Lebih jauh lagi, letak bayi dan kepala bayi yang benar sangat membantu memudahkan proses kelahiran. Selama beberapa minggu terakhir dan beberapa hari terakhir kehamilan, biasanya bayi bergerak ke dalam posisi yang terbaik untuk dilahirkan. Memulai persalinan sebelum bayi siap untuk dilahirkan mungkin saja dapat memperlambat atau memacetkan kelahiran. Walaupun kelahiran mungkin terlaksana dengan posisi kepala bayi miring atau terputar ke arah satu sisi, bukannya tepat masuk ke jalan lahir (asynclitic). Posisi asynclitic merupakan hambatan lain yang juga ingin kita hindari. Banyak penyedia perawatan akan merasa yakin mengenai posisi bayi anda dan dapat mengatur posisi kepala bayi untuk memudahkannya turun/ke bawah. Namun, tidak semua dari mereka terampil untuk pengaturan itu atau mau melakukannya. Proses yang menempatkan bayi pada posisi optimal tersebut di atas bekerja dengan sendirinya pada kebanyakan proses persalinan yang tidak dirangsang secara tidak alami. Pada tindakan induksi, hal ini kemungkinan tidak terjadi dikarenakan sejumlah faktor tersebut di atas.

c.Sejumlah Resiko dari Tindakan Induksi
Satu akibat lain dari dipilihnya tindakan induksi adalah bahwa bersamaan dengan meningkatnya kemungkinan pengulangan operasi Cesar, anda juga meningkatkan sejumlah resiko pada bayi dan diri anda. Induksi menyebabkan stress yang diderita oleh bayi, meningkatkan resiko kegelisahan mendalam yang diderita bayi, khususnya bila oxytocin atau misoprostol digunakan dalam dosis yang lebih besar. 5,6,7 Anda harus diawasi dengan hati-hati karena induksi dapat mengakibatkan anda mengalami sejumlah kontraksi yang terlalu kuat. Kontraksi yang terlalu kuat dan bertubi-tubi lebih sulit ditanggung oleh anda dan bayi anda, karena tidak adanya cukup waktu bagi bayi untuk menerima oksigen di antara bertubi-tubinya kontraksi seperti itu. Dalam beberapa kasus, induksi mengakibatkan terlepasnya ari-ari dari dinding rahim .8,9 

Memilih induksi mengakibatkan meningkatnya kemungkinan ibu hamil memerlukan satu dosis Epidural untuk mengatasi kontraksi.10,11 Sejumlah jenis Epidural menambah sejumlah resiko pada persalinan, termasuk sakit kepala spinal, tidak terkendalinya buang air kecil, tekanan darah rendah pada ibu, dan sakit punggung dalam jangka waktu yang lama, sakit kepala, sakit kepala sebelah/migrain, dan adanya mati rasa atau gatal-gatal; ada juga sejumlah kasus yang jarang terjadi seperti: jantung berhenti berdetak, kejang-kejang, shock akibat alergi, dan kelumpuhan organ pernafasan.12 Sejumlah Epidural meningkatkan suhu tubuh ibu, yang pada gilirannya meningkatkan suhu tubuh bayinya, sehingga setelah dilahirkan mungkin saja bayi memerlukan sejumlah keterlibatan medis untuk memeriksa apakah ada infeksi pada bayi. Lebih jauh lagi, sejumlah Epidural dapat mengakibatkan sakit yang diderita bayi karena masuknya obat-obatan itu ke dalam sistem tubuh bayi.13 Sejumlah Epidural cenderung memperlambat persalinan, yang dapat mengakibatkan pengulangan operasi Cesar dengan indikasi “kemacetan”/”persalinan tidak berhasil berlanjut, "14dan penggunaan sejumlah Epidural meningkatkan kemungkinan digunakannya alat bantu melahirkan seperti forsep ketika ibu kurang mampu mengejan dengan baik.”15 Anda akan mengalami sejumlah akibat sampingan dan sejumlah resiko dari operasi besar seperti akibat sampingan pada induksi, di mana sesungguhnya semua akibat sampingan itu dapat dihindari.

AROM (Dipecahkannya Selaput Ketuban Secara Manual/Sengaja) tidak disarankan untuk tindakan induksi. Sekali kantung ketuban pecah, resiko infeksi meningkat dan batas waktu pada kebanyakan persalinanpun dipaksakan. Bicara berdasarkan data statistik, tindakan AROM malah meningkatkan kemungkinan operasi Cesar pada anda. 16,17


Sejumlah bayi yang diinduksi nampaknya memiliki resiko prematuritas yang lebih tinggi. 18 Lepas dari penggunaan sejumlah pemeriksaan dan sejumlah usaha dokter yang terbaik, tidak ada jaminan utuh kematangan bayi. Selain itu, sejumlah bayi dari persalinan yang diinduksi lebih sering mengalami perawatan, pemulihan di unit intensif/icu, dan phototherapy untuk merawat bayi kuning, yang kesemuanya itu cenderung mengakibatkan pemisahan bayi dari ibunya. 19  

d.“Tetapi Bagaimana bila Bayinya Terlalu Besar”
Kekhawatiran besar yang ada pada para dokter dan perempuan adalah ukuran bayi. Bila anda menginginkan VBAC, dan diagnosa dari operasi Cesar anda sebelumnya adalah tidak imbangnya ukuran bayi yang besar dengan ukuran panggul ibu yang kecil (bayi berukuran besar, dan atau panggul ibu yang kecil), maka dapat dimengerti bila dokter anda berpikir bahwa anda perlu tindakan induksi pada usia kehamilan ke 37, 38, atau 39 minggu untuk “mencegah bayi menjadi terlalu besar.” Namun di lain pihak, keyakinan ini tidak didukung oleh bukti medis.

Sebagian dari banyak penyebab meningkatnya angka operasi Cesar termasuk sejumlah operasi Cesar yang dilakukan tanpa mengusahakan persalinan, bahkan pada para ibu yang pertama kali melahirkan, ini dikarenakan para dokter yang mengira bahwa bayinya terlalu besar. Suatu penelitian baru-baru ini membuktikan bahwa angka induksi di antara semua ibu hamil telah meningkat dari 12,9% pada tahun 1980, menjadi 25,8% pada tahun 1995, dan kecenderungan ini sangat mungkin meningkat sejak tahun 1995. Angka tersebut termasuk 23 kali peningkatan yang tidak dapat dipercaya untuk tindakan induksi pada kasus ukuran bayi yang terlalu besar. 20 Sementara kasus tidak imbangnya ukuran panggul ibu dengan ukuran bayi yang sesungguhnya dapat terjadi, diagnosa yang ada sangatlah subyektif dan beragam antara satu penyedia perawatan dengan penyedia lainnya. 21

Ultrasonografi seringkali digunakan pada waktu yang mendekati atau pada waktunya memperkirakan ukuran tubuh bayi. Di lain pihak, pemantauan melalui ultrasonografi hanya dapat diandalkan untuk mengetahui berat badan normal bayi dan biasanya tidak digunakan untuk memantau besar atau kecilnya ukuran tubuh bayi.22Dari sejumlah perempuan yang mengira dirinya mengandung bayi-bayi besar pada usia pertumbuhan bayi dalam kandungan usia gestasi(biasanya ketika bayi berbobot 500 gram), lebih banyak mengalami operasi Cesar hanya karena tampilan ultrasonografi memperlihatkan seorang bayi yang kelihatan besar, entah si bayi benar-benar besar atau tidak.23 Sejumlah perkiraan ukuran bayi secara klinis, sedikit lebih akurat daripada cara ultrasonografi, jadi tidak ada alasan untuk mengandalkan perkiraan ultrasonografi. 24

e.Induksi pada Bayi Berukuran Besar
Induksi tidak memberi manfaat pada hasil akhir kelahiran. Suatu penelitian pada tahun 1997 membandingkan sejumlah angka operasi Cesar di antara para ibu yang diinduksi karena diduga mengandung bayi berukuran besar dan pada para ibu yang diketahui mengandung bayi berukuran besar dengan persalinan alami/spontan. Para peneliti dikejutkan oleh apa yang ditemukan di mana angka operasi Cesar pada kelompok yang diinduksi sebesar 36% banding 17% pada kelompok yang bersalin alami; tadinya mereka mengharapkan bahwa kedua kelompok tersebut memiliki angka yang sama. Lebih jauh lagi, bayi-bayi pada kelompok yang diinduksi pada kenyataannya berukuran lebih kecil daripada bayi-bayi yang ibunya melahirkan secara spontan. Para peneliti menyimpulkan, “Pada suatu pengawasan telah ditemukan adanya suatu peningkatan kelahiran dengan tindakan operasi Cesar pada sejumlah ibu hamil yang mengalami tindakan induksi dengan indikasi bayi berukuran besar. Data ini mendukung adanya suatu rencana penanganan pada ibu hamil ketika adanya dugaan bayi berukuran besar [menunggu mulainya persalinan secara alami]. 25  Suatu penelitian pada tahun 1993 menemukan adanya sejumlah bayi yang diperkirakan berbobot lebih dari 4000 g, yang jumlah sebenarnya adalah lebih sedikit dari jumlah separuhnya, dan para peneliti menyimpulkan bahwa menginduksi bayi yang diduga berukuran besar meningkatkan angka operasi Cesar dan tidak memberikan manfaat. 26

Ketika dugaan bayi berukuran besar terjadi pada waktu sebelum melahirkan, angka operasi Cesarnya sebesar 52%, sementara pada para ibu yang memiliki bayi berukuran besar tanpa diduga sebelumnya angka operasi Cesarnya sebesar 30%. Angka operasi Cesar yang lebih tinggi disebabkan adanya peningkatan angka induksi dan kegagalan sejumlah tindakan induksi. Jadi, adanya perkiraan ukuran bayi yang diduga berukuran besar sebelum melahirkan, meningkatkan angka operasi Cesar dan tidak menurunkan angka dystocia bahu, suatu keadaan di mana kedua bahu bayi tidak lahir secara spontan, kekhawatiran utama pada para dokter adalah pada bayi-bayi berukuran besar. Kesimpulannya: “Ultrasonografi dan induksi persalinan pada para pasien dengan resiko bayi berukuran besar harus dilarang.” 27

f.Pecahnya Selaput Ketuban pada Saat Dini
Bila kantung air ketuban ibu hamil pecah terlebih dahulu, ia tidak segera mulai mengalami sejumlah kontraksi produktif, kebanyakan dokter mengatakan bahwa ia harus diinduksi dan melahirkan bayinya dalam waktu 24 jam, merujuk pada resiko infeksi. Di lain pihak, hal ini menyebabkan dilakukannya tindakan pemeriksaan melalui vagina yang mengakibatkan ibu terkena bakteri.28 Bila seorang perempuan menghindari pemeriksaan dalam bentuk apapun, tidak memasukkan apapun ke dalam vagina, dan tidak berada di rumah sakit, ia tidak mungkin mendapatkan infeksi. Ia dapat mengawasi suhu tubuhnya untuk memastikan bahwa tidak ada infeksi.

Angka kematian dan angka sakit yang diderita bayi tidak meningkat bila anda menunggu persalinan mulai terjadi dengan sendirinya, walaupun anda mungkin berada di rumah sakit lebih lama. 29 Tidak ada perbedaan berarti pada sejumlah angka infeksi atau angka operasi Cesar, baik bila anda menunggu untuk 24 jam atau bila anda menunggu sampai dengan tiga hari lamanya. 30 Sejumlah penelitian menunjukkan suatu peningkatan pada angka melahirkan dengan tindakan operasi (operasi Cesar atau melahirkan dengan bantuan peralatan) yang disebabkan oleh persalinan dengan tindakan induksi, dan tidak memberi manfaat pada bayi. 31 “Dengan memberikan perawatan pada ibu hamil, sekitar 70% perempuan akan melahirkan dalam 24 jam dan 85% perempuan akan melahirkan dalam waktu 48 jam. Bila ada, sebagian besar dari perempuan ini akan menerima sedikit manfaat dari tindakan induksi maupun tindakan induksi berdasarkan kebijakan induksi setelah PROM/Pecahnya Selaput Ketuban pada Saat Dini, yang mana berdasarkan data yang ada, tindakan induksi setelah PROM tidak dapat dibenarkan.” 32

g.Kehamilan “Melampaui Batas Waktu untuk Melahirkan”
Banyak penyedia perawatan menyarankan tindakan induksi pada persalinan karena seorang ibu hamil melampaui 40 minggu masa kehamilannya. Di lain pihak, bukti medis tidak mendukung induksi bila kehamilan anda melewati tanggal perkiraan melahirkan. Pemeriksaan selaput ketuban secara luas pada sejumlah penelitian telah menunjukkan agar mengurangi panjangnya waktu kehamilan 34,35 , namun sulit untuk menemukan sejumlah penelitian berjalan yang membahas mengenai sejumlah hasil akhir dari pengurangan waktu kehamilan pada bayi-bayi dan mengenai sejumlah angka operasi Cesarnya. Dengan kata lain, membuka selaput ketuban memang menyingkat waktu kehamilan, namun tidak selalu menurunkan kemungkinan operasi Cesar pada anda.

Ada suatu tindakan yang merupakan suatu tindakan bijaksana, yaitu bila anda memperhitungkan tanggal waktu melahirkan anda. Bila siklus datang bulan anda lebih lama dari 28 hari, kehamilan anda mungkin akan lebih lama, karena anda tidak berovulasi dan mengandung hingga masa-masa akhir siklus anda.

Sejumlah resiko pembukaan selaput ketuban adalah infeksi, robek mendadak pada selaput ketuban, dan sejumlah masalah yang disebabkan oleh posisi ari-ari yang menutupi jalan lahir yang tidak terdiagnosa sebelumnya.35 Sementara ada bukti bahwa sejumlah resiko pada bayi meningkat setidaknya setelah 41 atau 42 minggu kehamilan,   36,37 anda masih harus mengukur sejumlah resiko dan sejumlah manfaat dari tindakan induksi dibanding sejumlah resiko dan sejumlah manfaat dari menunggu persalinan yang mulai terjadi secara spontan. “Kehamilan yang melampaui batas waktu melahirkan jauh dari masalah pembedahan dan kekeringan dari air ketuban. Pemeriksaan untuk melakukan tindakan induksi secara selektif mengakibatkan sejumlah resiko. Pada umumnya tindakan induksi malah menciptakan lebih banyak masalah dibanding mengatasi masalah. Pada umumnya, membiarkan alam melaksanakan tugasnya merupakan hal yang terbaik, walaupun tidak bebas resiko juga. Kenyataannya yaitu bahwa andalah yang membayar dan andalah yang menentukan pilihan anda.38

h.Rahim Robek
Akhirnya, pembahasan mengenai masalah rahim robek. Sejumlah fakta yang ada jelas menunjukkan bahwa induksi dengan obat-obatan meningkatkan resiko robeknya rahim. 39Angka rahim robek pada suatu persalinan yang tidak diinduksi untuk Melahirkan Melalui Vagina Setelah Operasi Cesar/VBAC hanya ½ persen, lebih sedikit dari resiko adanya sejumlah komplikasi mayor melahirkan. Di lain pihak, ketika anda memasukkan induksi ke dalam gambaran melahirkan, maka resikonyapun meningkat. Suatu penelitian baru-baru ini yang menarik sejumlah besar perhatian media menunjukkan angka resiko robeknya rahim sebesar 77% pada sejumlah persalinan VBAC yang diinduksi dengan Pitocin. Dengan menggunakan prostaglandin, angka robeknya rahim meningkat hingga 2,45%!40

Hampir semua penelitian memastikan adanya resiko induksi pada VBAC, walaupun beberapa melaporkan tidak adanya peningkatan resiko robek pada rahim dengan tindakan induksi. 41  Pada suatu penelitian yang melibatkan 752 perempuan, terjadi 12 kasus robeknya rahim, di mana berkaitan dengan penggunaan induksi atau augmentasi/penguatan kontraksi atau keduanya. Para peneliti menyatakan bahwa VBAC aman untuk dilakukan, namun tidak aman bila diinduksi.42 Mengenai mutu dari hasil yang diharapkan dari tindakan induksi pada penelitian yang dikutip di atas, pada sejumlah persalinan yang diinduksi terdapat 7% pembukaan pada bekas luka operasi Cesar. 43

Suatu tinjauan pada hampir sebanyak 115.000 kelahiran di Canada memastikan bahwa induksi dan augmentasi persalinan (dengan menggunakan sejumlah bahan kimia untuk merangsang kerja yang lebih kuat pada rahim pada suatu persalinan yang mulai dengan sendirinya/alami) jelas merupakan sejumlah faktor resiko yang menyebabkan rahim robek.44Walaupun sedikit diragukan, karena persalinan sudah dimulai, augmentasi pada persalinan adalah suatu pilihan selain induksi, namun tetap saja ada resiko rahim robek. Suatu penelitian dari Israel menyimpulkan bahwa penggunaan oxytocin dan prostaglandin menambah resiko rahim robek.45 Satu penelitian lain memastikan rendahnya resiko rahim robek pada persalinan yang spontan (0.45%), namun penggunaan jel prostaglandin meningkatkan resiko sebesar 6,41 kali lipat.46

i.Alternatif untuk Induksi Obat-Obatan
Bila seseorang harus memerlukan induksi karena alasan medis, apa saja yang menjadi pilihan? Di dalam bacaan medis, walaupun singkat dibahas, ada beberapa pilihan. Oleh banyak bidan, berhubungan seksual seringkali disebut berdayaguna/efektif, namun pada literatur medis, kualitas dari manfaat yang diharapkan dari cara ini hanya sedikit. Rangsangan pada puting payudara maupun payudara dengan alat listrik pemompa asi sudah terbukti efektif setara dengan efektifitas oxytocin untuk memulai persalinan,47 walaupun cara ini dapat menyebabkan sejumlah akibat sampingan yang serupa dan harus dilaksanakan di bawah pengawasan penyedia perawatan yang berpengalaman dalam hal ini.

Akupuntur nampaknya meningkatkan jumlah kontraksi.48,49Pembukaan jalan lahir menggunakan cara elektrik termasuk penggunaan kateter balon, merupakan pilihan non farmasi yang nampaknya efektif.50,51Bila bayinya belum siap untuk dilahirkan, penggunaan sejumlah bentuk induksi non-farmasi bisa meningkatkan angka kegagalan dibanding dengan menunggu terjadinya persalinan spontan, karena mungkin saja posisi bayi belum optimal, dan tanpa kantung berisi air ketuban, mungkin saja bayinya tidak dapat merubah posisinya. Data mengenai induksi yang menggunakan sejumlah bahan non-farmasi sulit dihasilkan/didapatkan. Bila anda harus mencari keterangan mengenai keamanan dan mutu manfaat dari cara induksi non-farmasi tersebut, juga dengan minyak kastor, dan sejenisnya, anda mungkin dapat merujuk pada Arsip Kebidanan di http://www.gentlebirth.org/archives/natinduc.html untuk dapat membuat keputusan berdasarkan keterangan yang jelas.

j.Kesimpulan (Melahirkan melalui Vagina sesudah Kelahiran melalui Operasi Cesar/VBAC dan Percepatan Kelahiran dengan Obat: Menolong atau Menghambat?)
Pada umumnya, induksi dengan obat-obatan yang saat ini dilakukan di rumah sakit-rumah sakit tidak memberikan hasil seperti apa yang dijanjikan. Induksi tersebut bukannya meningkatkan kemungkinan berhasilnya VBAC anda, malahan menurunkannya, pada saat yang bersamaan makin membahayakan anda dan bayi anda. Untuk kebutuhan darurat medis, induksi dapat menjadi pilihan yang bermanfaat, namun harus merupakan pilihan yang tidak diputuskan dengan mudahnya/begitu saja. Bila induksi betul-betul diperlukan, maka perlu untuk mematangkan mulut rahim sematang mungkin sebelum induksi, untuk meningkatkan kemungkinan keberhasilan anda melahirkan. Tentukanlah pilihan penyedia perawatan untuk anda secara teliti dan bicarakanlah pilihan anda sepenuhnya dengan mereka sebelum anda memutuskan untuk menyetujui tindakan induksi untuk persalinan VBAC anda.   

k.Daftar Referensi(Melahirkan melalui Vagina sesudah Kelahiran melalui Operasi Cesar/VBAC dan Percepatan Kelahiran dengan Obat: Menolong atau Menghambat?)
1 Nichols CW. Postdate Pregnancy. Part I. A literature review. J Nurse-Midwifery 1985a;30(4)222-239.
2 Sims EJ, Newman RB, Hulsey TC. Vaginal birth after cesarean: to induce or not to induce. Am J Obstet Gynecol 2001 May;184(6):1122-4.
3 Jarvelin MR, Hartikainen-Sorri AL, and Rantakallio P. Labour induction policy in hospitals of different levels of specialisation. Br J Obstet Gynaecol 1993;100(4):310-315.
4 Learman LA, Evertson LR, Shiboski S. Predictors of repeat cesarean delivery after trial of labor: do any exist? J Am Coll Surg. 1996 Mar;182(3):257-62.
5 Stubbs TM. Oxytocin for labor induction. Clin Obstet Gynecol 2000 Sep;43(3):489-94.
6 Wing DA. Labor induction with misoprostol. Am J Obstet Gynecol 1999 Aug;181(2):339-45.
7 Kolderup L, McLean L, Grullon K, Safford K, Kilpatrick SJ. Misoprostol is more efficacious for labor induction than prostaglandin E2, but is it associated with more risk? Am J Obstet Gynecol 1999 Jun;180(6 Pt 1):1543-50.
8 Kulkarni R, Hawkins K, Boyle AH. Placental abruption following vaginal administration of prostaglandin E2 for induction of labour. West Engl Med J. 1990 Dec;105(4):114-5.
9 Leung A, Kwok P, Chang A. Association between prostaglandin E2 and placental abruption. Br J Obstet Gynaecol. 1987 Oct;94(10):1001-2.
10 Rosenblatt RA, Dobie SA, Hart LG, Schneeweiss R, Gould D, Raine TR, Benedetti TJ, Pirani MJ, Perrin EB. Interspecialty differences in the obstetric care of low-risk women. Am J Public Health. 1997 Mar;87(3):344-51.
11 Gucciardo L, Thoumsin H, Foidart JM. [The effects of labor induction on the progress of childbirth]. Rev Med Liege. 1998 Nov;53(11):665-8.
12 Goer, Henci. Obstetric Myths versus Research Realities. Westport, CT: Bergin and Garvey, 1995. 254-255.
13 Ibid.
14 Rojansky N, Tanos V, Reubinoff B, Shapira S, Weinstein D. Effect of epidural analgesia on duration and outcome of induced labor. Int Gynaecol Obstet 1997 Mar;56(3):237-44.
15 Dublin S, Lydon-Rochelle M, Kaplan RC, Watts DH, Critchlow CW. Maternal and neonatal outcomes after induction of labor without an identified indication. Am J Obstet Gynecol 2000 Oct;183(4):986-94.
16 Brisson-Carroll G, Fraser W, Breart G, Krauss I, Thornton J. The effect of routine early amniotomy on spontaneous labor: a meta-analysis. Obstet Gynecol 1996 May;87(5 Pt 2):891-6.
17 Sheiner E, Segal D, Shoham-Vardi I, Ben-Tov J, Katz M, Mazor M. The impact of early amniotomy on mode of delivery and pregnancy outcome. Arch Gynecol Obstet 2000 Sep;264(2):63-7.
18 Molnar E, Sloboda L. [Induction of labor—personal results]. Med Pregl. 1991;44(7-8):323-5.
19 Boulvain M, Marcoux S, Bureau M, Fortier M, Fraser W. Risks of induction of labour in uncomplicated term pregnancies. Paediatr Perinat Epidemiol. 2001 Apr;15(2):131-8.
20 Yawn BP, Wollan P, McKeon K, Field CS. Temporal changes in rates and reasons for medical induction of term labor, 1980-1996 Am J Obstet Gynecol 2001 Mar;184(4):611-9. 21 Sheehan KH. Caesarean section for dystocia: a comparison of practices in two countries. Lancet 1987;1(8532):548-551.
22 Mintz MC and Landon MB. Sonographic diagnosis of fetal growth disorders. Clin Obstet Gynecol 1989;161(3):646-653.
23 Levine AB, Lockwood CJ, Brown B, Lapinski R, Berkowitz RL. Sonographic diagnosis of the large for gestational age fetus at term: does it make a difference? Obstet Gynecol. 1992 Jan;79(1):55-8.
24 Chauhan SP, Cowan BD, Magann EF, Bradford TH, Roberts WE, Morrison JC. Intrapartum detection of a macrosomic fetus: clinical versus 8 sonographic models. Aust N Z J Obstet Gynaecol. 1995 Aug;35(3):266-70.
25 Leaphart WL, Meyer MC, Capeless EL. Labor induction with a prenatal diagnosis of fetal macrosomia J Matern Fetal Med 1997 Mar-Apr;6(2):99-102.
26 Combs CA, Singh HB, and Koury JC. Elective induction versus spontaneous labor after sonographic diagnosis of fetal macosomia. Obstet Gynecol 1993:81(4):492-496.
27 Weeks JW, Pitman T, Spinnato JA 2nd. Fetal macrosomia: does antenatal prediction affect delivery route and birth outcome? Am J Obstet Gynecol 1995 Oct;173(4):1215-9.
28 Seaward PG, Hannah ME, Myhr TL, Farine D, Ohlsson A, Wang EE, Hodnett E, Haque K, Weston JA, Ohel G. International multicenter term PROM study: evaluation of predictors of neonatal infection in infants born to patients with premature rupture of membranes at term. Am J Obstet Gynecol. 1998 Sep;179(3 Pt 1):635-9.
29 McCaul JF 4th, Rogers LW, Perry KG Jr, Martin RW, Allbert JR, Morrison JC. Premature rupture of membranes at term with an unfavorable cervix: comparison of expectant management, vaginal prostaglandin, and oxytocin induction. South Med J. 1997 Dec;90(12):1229-33.
30 Shalev E, Peleg D, Eliyahu S, Nahum Z. Comparison of 12- and 72-hour expectant management of premature rupture of membranes in term pregnancies. Obstet Gynecol. 1995 May;85(5 Pt 1):766-8.
31 Ottervanger HP, Keirse MJ, Smit W, Holm JP. Controlled comparison of induction versus expectant care for prelabor rupture of the membranes at term. J Perinat Med. 1996;24(3):237-42.
32 Keirse MJ, Ottervanger HP, Smit W. Controversies: prelabor rupture of the membranes at term: the case for expectant management. J Perinat Med. 1996;24(6):563-72. Review.
33 Magann EF, McNamara MF, Whitworth NS, Chauhan SP, Thorpe RA, Morrison JC. Can we decrease postdatism in women with an unfavorable cervix and a negative fetal fibronectin test result at term by serial membrane sweeping? Am J Obstet Gynecol. 1998 Oct;179(4):890-4.
34 O’Brien JM, Mercer BM, Cleary NT, Sibai BM. Efficacy of outpatient induction with low-dose intravaginal prostaglandin E2: a randomized, double-blind, placebo-controlled trial. Am J Obstet Gynecol. 1995 Dec;173(6):1855-9.
35 Satin AJ and Hankins GD. Induction of labor in the postdate fetus. Clin Obstet Gynecol 1989;32(2):269-277.
36 Devoe LD, Sholl JS. Postdates pregnancy. Assessment of fetal risk and obstetric management. J Reprod Med. 1983 Sep;28(9):576-80.
37 Divon MY, Haglund B, Nisell H, Otterblad PO, Westgren M. Fetal and neonatal mortality in the postterm pregnancy: the impact of gestational age and fetal growth restriction. Am J Obstet Gynecol. 1998 Apr;178(4):726-31.
38 Goer, Henci. Obstetric Myths versus Research Realities. Westport, CT: Bergin and Garvey, 1995. 182-183.
39 Zelop CM, Shipp TD, Cohen A, Repke JT, Lieberman E. Trial of labor after 40 weeks’ gestation in women with prior cesarean. Obstet Gynecol 2001 Mar;97(3):391-3.
40 Lydon-Rochelle M, Holt VL, Easterling TR, Martin DP. Risk of uterine rupture during labor among women with a prior cesarean delivery. N Engl J Med 2001; 345(1): 3-8.
41 Nwachuku V, Sison A, Quashie C, Chau A, Yeh S. Safety of misoprostol as a cervical ripening agent in vaginal birth after cesarean delivery. Obstet Gynecol 2001 Apr;97(4 Suppl 1):S67.
42 Blanchette H, Blanchette M, McCabe J, Vincent S. Is vaginal birth after cesarean safe? Experience at a community hospital. Am J Obstet Gynecol 2001 Jun;184(7):1478-84; discussion 1484-7.
43 Sims EJ, Newman RB, Hulsey TC. Vaginal birth after cesarean: to induce or not to induce. Am J Obstet Gynecol 2001 May;184(6):1122-4.
44 Baskett TF, Kieser KE. A 10-year population-based study of uterine rupture. Obstet Gynecol 2001 Apr;97(4 Suppl 1):S69.
45 Shimonovitz S, Botosneano A, Hochner-Celnikier D. Successful first vaginal birth after cesarean section: a predictor of reduced risk for uterine rupture in subsequent deliveries. Isr Med Assoc J 2000 Jul;2(7):526-8.
46 Ravasia DJ, Wood SL, Pollard JK. Uterine rupture during induced trial of labor among women with previous cesarean delivery. Am J Obstet Gynecol 2000 Nov;183(5):1176-9.
47 Chayen B, Tejani N, Verma U. Induction of labor with an electric breast pump. J Reprod Med. 1986 Feb;31(2):116-8.
48 Dunn PA, Rogers D, Halford K. Transcutaneous electrical nerve stimulation at acupuncture points in the induction of uterine contractions. Obstet Gynecol. 1989 Feb;73(2):286-90.
49 Tsuei JJ, Lai Y, Sharma SD. The influence of acupuncture stimulation during pregnancy: the induction and inhibition of labor. Obstet Gynecol. 1977 Oct;50(4):479-8.
50 Atad J, Bornstein J, Calderon I, Petrikovsky BM, Sorokin Y, Abramovici H. Nonpharmaceutical ripening of the unfavorable cervix and induction of labor by a novel double balloon device. Obstet Gynecol. 1991 Jan;77(1):146-52.
51 Manor M, Blickstein I, Ben-Arie A, Weissman A, Hagay Z. Case series of labor induction in twin gestations with an Intrauterine Balloon catheter. Gynecol Obstet Invest. 1999;47(4):244-6.

wp_pharma.doc                                                                         11/17/2001
                                                                                                ©2001 ICAN, Inc.


X.Rahim Robek: Suatu penelitian selama 10 tahun berdasarkan populasi  mengenai uterine rupture/rahim robek
Obstet Gynecol 2001 Apr;97(4 Suppl 1):S69
Baskett TF, Kieser KE.
Dalhousie University, Halifax, Nova Scotia, Canada

a.Tujuan:
Meninjau kejadian, sejumlah faktor terkait, dan penyakit tekait dengan rahim robek.

b.Cara:
Suatu tinjauan selama 10 tahun (1988-1997) berdasarkan kejadian melahirkan sebanyak 114,933 dalam populasi di dalam satu provinsi.  

c.Sejumlah Hasilnya:  
Terdapat 39 yang robek:
16 di antaranya betul-betul robek/robek samasekali dan
23 lainnya dehiscence/terbukanya bekas operasi Cesar.

37 kasus pernah mengalami operasi Cesar
(34 dengan sayatan mendatar pada bagian bawah,
2 dengan sayatan klasik/vertikal,
1 dengan sayatan vertikal pada bagian bawah).

Dari 114.933 kelahiran, sebanyak 11.585 (10%nya) robek rahim terjadi pada perempuan yang sebelumnya melahirkan melalui operasi Cesar.

Kejadian rahim robek pada mereka yang mencoba melahirkan melalui vagina (4.516) sebesar 3 per 1000 kelahiran dan
terbukanya bekas operasi sebesar 5 per 1000.

Induksi atau augmentasi menggunakan berbagai bahan oxytosik pada persalinan terkait dengan angka rahim yang robek samasekali sebesar 50% dan
25% pada terbukanya bekas operasi.

Tidak ditemukan sejumlah kematian pada ibu, namun 33% dari para pasien yang mengalami rahim robek memerlukan transfusi darah. Ditemukan satu kasus kematian bayi setelah dilahirkan yang disebabkan robek pada rahim.

d.Kesimpulan (Rahim Robek: Suatu penelitian selama 10 tahun berdasarkan populasi  mengenai uterine rupture/rahim robek):
Induksi dan augmentasi pada persalinan dipastikan sebagai beberapa faktor resiko robeknya rahim. Ketidakwajaran detak jantung bayi merupakan bantuan diagnostik yang dapat diandalkan. Penyakit pada ibu dan penyakit perinatal (masa sejak usia 22 minggu kehamilan sampai dengan masa genap 7 hari setelah bayi dilahirkan) relatif rendah.

PMID: 11275210 [PubMed – seperti yang diperbanyak oleh penerbit]

11/17/2001
                                                                                                ©2001 ICAN, Inc


XI.Daftar Periksa Sejumlah Keperluan untuk Melahirkan Melalui Vagina Setelah Operasi Cesar/VBAC
Bacalah sejumlah buku bagus mengenai kehamilan dan Melahirkan Melalui Vagina Setelah Operasi Cesar/VBAC. Dua judul yang disarankan: "The VBAC Companion" oleh Diana Korte dan "Open Season" oleh Nancy Wainer Cohen. Pusatkan perhatian pada makanan bergizi dan olah raga. Buatlah daftar periksa (checklist) keperluan harian untuk memastikan bahwa anda memperoleh gizi pokok yang anda perlukan. Biasakan berolah raga setiap hari seperti berenang, berjalan kaki, yoga, fitness untuk ibu hamil, apapun yang dirasa baik. Untuk keterangan mengenai pola makan selama masa kehamilan, kami menyarankan bacaan: "What Every Pregnant Woman Should Know" oleh Dr.Tom Brewer dan Gail Sforza Brewer atau The Brewer Diet.

Daftarkan diri anda untuk program VBAC, program penyegaran masa hamil atau program masa kehamilan independen lainnya. Meskipun anda mungkin sudah mengikuti sejumlah kegiatan serupa pada kehamilan sebelumnya, suatu kegiatan malam yang dilakukan bersama pasangan anda akan membantu mempersiapkan anda berdua, diskusi yang mendukung memberikan anda sejumlah gagasan/pemikiran untuk dapat menguasai keadaan pada saat persalinan dan untuk memusatkan perhatian pada bayi anda dan kelahirannya.  
Buatlah daftar mengenai sejumlah dukungan dari penyedia perawatan anda. Carilah penyedia perawatan/rumah sakit yang SUDAH memiliki segala pilihan yang anda inginkan. Carilah seseorang yang meyakini bahwa banyak kejadian VBAC memiliki angka kemungkinan keberhasilan sebesar lebih dari 75% dan angka operasi Cesar yang lebih rendah dari masyarakat kebanyakan. Pertimbangkanlah untuk memilih bidan sebagai penyedia perawatan anda. Para bidan memiliki angka kelahiran melalui operasi Cesar yang sangat rendah. Bila ada hal yang tidak jelas, anda sebaiknya mencari pendapat kedua. Percaya/yakinlah pada kekuatan batin anda dan sejumlah keterangan yang benar yang sudah anda ketahui.

Gunakanlah jasa seorang doula/penolong persalinan/seorang yang mendukung.
Setiap sen pengeluaran anda sangatlah sepadan dengan dukungan keyakinan selama persalinan dari sesorang yang percaya/meyakini bahwa melahirkan merupakan kerja alam. Seseorang ini memiliki keterampilan non-medis untuk membantu anda selama persalinan untuk terjadinya proses kelahiran yang anda inginkan. Orang ini akan menolong anda mulai dari sejumlah kontraksi pertama anda di rumah hingga masa sesudah anda melahirkan secara menyeluruh. Seorang penolong kelahiran, atau doula, menghilangkan tekanan dari para ayah dan anggota keluarga sehingga seluruh keluarga dapat didukung.  

Lakukanlah latihan penenangan dan membayangkan dengan berolah raga, mendengarkan sejumlah kaset, pijatan, kata-kata peneguhan dan sentuhan. Gunakanlah tema-tema untuk mengucapkan kata-kata peneguhan seperti “Setiap kontraksi menguatkan aku dan bayiku.” Atau “Aku akan melahirkan bayiku melalui vagina, secara alami, dan dengan kegembiraan.”

Tulislah suatu rencana kelahiran. Bicarakanlah setiap hal yang merupakan hal penting bagi anda dengan penyedia perawatan anda, tempatkan semua itu ke dalam rencana kelahiran yang anda tulis. Buatlah salinan lebih untuk ditempatkan dalam tulisan perencanaan/chart anda. Pahami sejumlah kebijakan VBAC rumah sakit dan berembuklah sebaik mungkin sebelum melahirkan mengenai perbedaan yang ada antara rencana anda dan kebijakan rumah sakit. Sejumlah hal yang perlu dipertimbangkan/dipikirkan waktu anda menuliskan rencana kelahiran bayi anda adalah:  

Tentukan suatu lingkungan yang aman, mendukung untuk menguatkan persalinan anda.
Cobalah sejumlah posisi yang beragam.
Daripada berbaring, cobalah untuk berdiri atau berjalan-jalan. Ketika mengejan, posisi berjongkok (berjongkok berjinjit, kedua kaki dibuka selebar-lebarnya)  dapat sangat membantu. Cobalah menggunakan bola melahirkan. Cobalah berjalan-jalan di hall/lorong rumah sakit. Cobalah untuk “berdansa/menari” dengan pasangan anda.
Lanjutkan asupan kalori dan cairan ke dalam tubuh anda. Persalinan merupakan kegiatan dan memerlukan tenaga. Anastesi/pembiusan umum dan (NPO) atau berpuasa total dapat meningkatkan resiko dengan meningkatnya keasaman isi lambung, bukannya menghilangkan resiko pada sasaran yang ingin dicapai.
Kapan saja bila memungkinkan, hindarilah keterlibatan/campur tangan medis. Pengawasan terus-menerus pada bayi dengan alat listrik dapat membatasi gerak anda. Mintalah sejumlah pilihan yang tidak menggunakan peralatan yang dikenakan pada tubuh anda. Tanyakanlah tindakan yang akan dilakukan sehubungan dengan hasil dari pilihan yang anda ambil.   

Bila memungkinkan, induksi buatan harus dihindari. Induksi medis terhubung dengan tingginya angka robeknya rahim dan banyak keterlibatan (peralatan) medis.
Mintalah waktu untuk mencoba sejumlah cara non-medis untuk merangsang persalinan bila persalinan anda tidak berlanjut. Ini termasuk mencoba beberapa posisi, berjalan-jalan, perangsangan pada puting payudara, terapi aroma, tekanan pada titik-titik akupuntur/akupresur. Setiap peristiwa melahirkan berbeda adanya. Pikirkanlah bahwa saat ini merupakan persalinan pertama anda, kecuali bila bukaan anda pada persalinan sebelumnya mencapai 5 sampai 6 sentimeter (kelahiran terdahulu tidak mengalami kemacetan pada persalinan).
Menghindari penggunaan epidural dapat meningkatkan kesempatan anda untuk melahirkan melalui vagina. Satu jenis epidural menghambat bayi untuk berada pada posisi yang baik untuk dilahirkan dan akan mengurangi kemampuan anda untuk dapat mengejan dengan efektif. Cobalah untuk menggunakan sejumlah tindakan alami untuk menghilangkan kesakitan, seperti: kompres panas/dingin, mandi/dengan pancuran (begitu persalinan dimulai), unit tenns, pijatan, penenangan, panduan untuk membayangkan, bola melahirkan. Bila anda mulai berpikir bahwa anda sangat memerlukan satu jenis epidural, berilah kesempatan pada diri anda/sedikit lagi waktu untuk sejumlah kontraksi, atau mintalah agar anda diperiksa sekali lagi. Mungkin saja anda beralih ke tahap transisi (kepala bayi sudah memasuki jalan lahir) dengan cepat tanpa anda menyadarinya.    

Memiliki suatu perencanaan untuk melahirkan tidak menjamin bahwa sejumlah keinginan anda dituruti. Bekerjasama dengan penyedia perawatan yang meyakini proses melahirkan, adalah lebih mudah daripada berbantah dengan seseorang yang tidak meyakininya. Sejumlah tuntutan maupun cara baik-baik tidak akan memberikan anda cara melahirkan yang diinginkan.

Banyak kasus operasi Cesar disebabkan oleh posisi posterior/posisi kepala bayi vertex-kepala bayi di bawah namun tubuhnya membelakangi ibu atau posisi bayi yang miring. Hindarilah posisi berbaring selama masa kehamilan anda. Bacalah artikel berjudul “Posterior Presentation-A Pain in the Back” oleh Val el Halta dan “Understanding and Teaching Optimal Fetal Positioning" oleh Jean Sutton dan Pauline Scot.

Yakinlah pada diri anda sendiri dan yakinlah pada proses melahirkannya. Ulangilah tema-tema peneguhan dan katakanlah itu kepada diri anda sendiri. Kuatkanlah diri anda sendiri untuk yakin bahwa anda mampu melahirkan bayi anda melalui vagina. Berhubunganlah dengan batin anda; kecerdasan sumber daya anda dan sejumlah kemampuan anda. Lupakan bekas luka operasi anda dan pusatkanlah perhatian pada sejumlah hal positif tentang kehamilan anda.

Atasi sisa-sisa perasaan negatif (rasa beralah, kekecewaan, kemarahan) dari kelahiran (beberapa kelahiran) melalui operasi Cesar sebelumnya. Dua buku yang sangat bagus untuk ini adalah "Rebounding From Childbirth"oleh Lynn Madsen’s dan "Ended Beginnings" oleh Claudia Panuthos.

Belajarlah untuk yakin pada diri anda, bekerjasama dan mendengarkan diri anda juga bayi anda. Simaklah pola persalinan anda yang unik.

Merasa nyamanlah pada diri anda sendiri juga pada hubungan anda sebagai pasangan dan pertahankanlah sikap positif anda.  

Buatlah daftar dukungan dari keluarga dan teman anda. Ingatlah bahwa menurut penelitian medis, VBAC biasanya lebih aman bagi anda dan bayi anda daripada operasi Cesar yang berulang. Jangan takut membiarkan keluarga anda mengetahui betapa anda sangat membutuhkan dukungan perasaan tanpa syarat dari mereka.
Hadirilah sejumlah pertemuan dukungan VBAC dan bergabunglah dengan sejumlah organisasi nasional. Melalui sejumlah pertemuan dan bacaannya, anda akan mendengar dari banyak orang lain yang membagikan pengalamannya mengenai VBAC. Bacalah kumpulan cerita mengenai VBAC berjudul "The VBAC Experience" oleh Lynn Baptisti Richards.

Melaksanakan VBAC merupakan tindakan bernilai untuk melahirkan bayi anda! Anda bisa! Memang tidak segalanya dapat kita kendalikan, namun untuk meningkatkan kemungkinan VBAC, juga tergantung pada persiapan sebaik mungkin dari diri kita sendiri.

            11/17/2001
                                                                                                             ©2001 ICAN, Inc





Eyewitness News talks to doctors and families to examine an underground movement known as "Free Birth," where children are born at home without the aid of medical professionals.
Pasadena mother Joya Roy comes from a medical family. Her father is professor of gynecology at USC. Her mother is a registered nurse. So it came as a bit of a surprise when Joya decided to give birth to her third and fourth children at home, in the back yard with no doctor and no mid-wife. 
Joya Roy ibu dari Pasadena berasal dari keluarga medis. Ayahnya adalah profesor kandungan di USC. Ibunya seorang perawat terdaftar. Maka jadilah suatu hal yang agak mengejutkan ketika Joya memutuskan untuk melahirkan anak ketiganya di rumah, di pelataran belakang rumahnya tanpa dokter dan tanpa bidan.
Joya and her husband are part of an underground movement known as "Free Birth."
For some new mothers, childbirth is a family affair. For others, it's something to be done alone.
Joya dan suaminya adalah bagian dari gerakan bawah tanah yang dikenal dengan "Free Birth"/"Lahir Bebas."
Bagi sejumlah ibu baru, kelahiran anak adalah urusan/masalah keluarga. Bagi sejumlah lainnya, itu merupakan hal yang dilakukan seorang diri. Joya gave birth to her first two boys in the hospital. "In a hospital setting, it's like the odds are stacked against you," said Joya.
"Dalam pengaturan rumah sakit, terasa seperti  dihadapkan dengan setumpuk keanehan,
Joya sudah melahirkan dua anak sebelumnya di rumah sakit.
But for her third and fourth babies, she stayed home with her husband Ben and give birth to Omja and Ketan in a back yard birthing tub.
Namun untuk anak ketiga dan keempatnya, ia tinggal di rumah bersama suaminya Ben dan melahirkan Omja dan Ketan di dalam bak untuk melahirkan di pelataran belakang rumahnya. 
 "It really brought us closer together to rely on each other."
"Melahirkan di rumah sungguh membuat kami dekat saling menopang satu sama lain."
Omja, now 3-and-a-half years old, got a front row seat to his baby brother's birth.
"I stayed up all night," said Omja.
Kini Omja berusia 3 setengah tahun, ia duduk di paling depan pada peristiwa kelahiran saudara laki-lakinya.
"Aku berjaga sepanjang malam," kata Omja. 
Ben and Joya insist they understand the potential risks of a home birth but feel that childbirth should be treated as a natural event, not a medical emergency.
Ben dan Joya menegaskan bahwa mereka juga sudah paham tentang sejumlah resiko berbahaya dari tindakan melahirkan di rumah namun mereka merasa bahwa kelahiran anak harus diperlakukan sebagai peristiwa alami, bukan diperlakukan sebagai kedaruratan medis.

"If you find comfort in the hospital, go there," said Joya. "But for me that's not the case at all, I get really tense." 
"Bila anda nyaman di rumah sakit, pergi saja ke rumah sakit,"kata Joya. "Tapi bagi saya, masalahnya bukan itu, di rumah sakit, saya merasa tegang."
"It's part of our biology for that to happen," said Ben. "It's a happening, it's a natural thing, not an emergency."
"Terjadinya kelahiran adalah bagian dari bilogi kita, " kata Ben. "Kelahiran merupakan suatu kejadian, suatu hal yang alami, bukan suatu kedaruratan."
"Our culture has developed many fears around childbirth," said Shanley. "You cannot take a natural bodily function and bring in strangers, drugs, machinery, and not expect it to change." 
"budaya kita telah mengembangkan banyak ketakutan seputar kelahiran anak," kata Shanley. "Anda tidak bisa mengambil fungsi alami ragawi dan anda tidak bisa menghadirkan sejumlah orang asing, obat-obatan, mesin-mesin dan tidak berharap hal tersebut berubah."
That's a view shared by Laura Shanley, the author of "Unassisted Childbirth."
Itu pandangan yang dibagikan oleh Laura Shanley, penulis buku: "Melahirkan Tanpa Bantuan."
Laura gave birth to all four of her children at home.
Laura telah melahirkan keempat anaknya di rumah.
"When I felt the time was right, I walked over to the bed," said Shanley. "And seconds later, my baby just came flying out. And my husband caught him in mid-air."
"Saat saya merasa waktunya sudah tepat, Saya berjalan naik ke tempat tidur," kata Shanley. " Dan beberapa detik kemudian bayi saya meluncur keluar begitu saja. Dan suami saya menangkapnya di tengah meluncurnya bayi di udara."
 
Not everyone thinks this is a good idea.
Tidak semua sependapat bahwa hal itu merupakan gagasan yang baik.
Dr. Laurie Reynard of St. John's Health Center in Santa Monica has delivered thousands of babies.
Dr. Laurie Reynard dari St.John's Health Center di Santa Monika sudah membantu melahirkan ribuan bayi.
"It's taking us back to the 19th century," said Dr. Reynard. "The greatest risk would be maternal hemorrhage. You could lose a massive amount of blood very quickly."
"Hal melahirkan di rumah membawa kita kembali ke abad 19," kata Dr.Reynard. "Resiko berbahaya terbesar yang akan terjadi adalah perdarahan pada ibu. Anda bisa kehilangan sejumlah banyak darah dengan begitu cepat.
Every year, 500,000 women around the world die during childbirth, most in developing countries. Sometimes it's the children who die.
Setiap tahunnya, 500.000 perempuan di dunia meninggal saat tengah melahirkan anak, kebanyakan di negara berkembang. Kadang, bayinyalah yang meninggal.
Australian mother Janet Fraser is a leading advocate of unassisted birth. She has two children.
Her third child died this spring of an apparent cardiac arrest during an unassisted birth.
Janet Fraser seorang ibu berkebangsaan Australia adalah pemimpin pembicara untuk melirkan tanpa bantuan. Ia punya dua anak. Anak ketiganya meniggal pada musim semi ini karena kelainan jantung saat tengah melahirkan anaknya tanpa bantuan medis/profesional medis.
"Ninety-five percent of the time things go smoothly in obstetrics, but then there's the other 5 percent where the bottom falls out and if you're not in a hospital, you can die or the baby can die," said Dr. Reynard. "And there's really just too much at stake. Just a few hours can make such a crucial difference in your life or the life of your baby. Why take that risk?" 
"95% dari waktu yang ada, sejumlah hal berlangsung mulus dalam sejumlah hal kebidanan, namun ada sejumlah 5% lainnya di mana terjadi kerumitan dan bila anda tidak berada di rumah sakit, anda atau bayi anda bisa meninggal," kata Dr. Reynard. "Dan sangatlah banyak yang dipertaruhkan. Hanya beberapa jam saja dapat membuat perbedaan penting di dalam hidup anda atau hidup bayi anda. Mengapa mengambil pilihan yang beresiko seperti itu/melahirkan di rumah tanpa bantuan?"
For Joya Roy and her family, Ketan's birth was a moment of family bonding.
Bagi Joya Roy dan keluarganya, Kelahiran Ketan merupakan saat-saat eratnya jalinan kekeluargaan.
"It was just really happy, a big celebration," said Joya.
"Saat-saat itu begitu membahagiakan, suatu perayaan besar," kata Joya.
Joya's first birth did not go quite as smooth as her second.
Kelahiran anak pertama Joya tidak semulus kelahiran anak keduanya.
Omja was born with the umbilical cord tightly wrapped around his neck, twice. Joya said she simply reached down, unwound the cord and everything was fine.
Omja terlahir dengan tali pusarnya melilit erat lehernya, dua lilitan. Joya mengatakan bahwa dengan mudahnya ia menggapai ke bawah, emlepaskan lilitan tali pusar dan segalanya baik-baik saja.
To learn more information about Unassisted Birth Movement, click on the link below.
Untuk mempelajari lebih banyak keterangan mengenai Gerakan Melahirkan Tanpa Bantuan, klik link di bawah ini.
 (Copyright ©2010 KABC-TV/DT. All Rights Reserved.)

1 comments
Post A Comment lainekyocera9/18/09 1:45 PM PDT
Homebirth though does not have to be as unsafe as an unassisted birth, if you have a homebirth with a trained midwife, you can still have the privacy you desire and much of the safety issues are covered as well. Unassisted birth, while a great ideal, is often just not practical. Something can happen very quickly afterwards and something as simple as oxygen or a injection of a legal medication midwives carry can save mom and baby.   

Childbirth (hormones role in cbirth) speakers:
Ina May Gaskin

Marsden Wagner MD

Christiane Nort

Robbie Davis fl

Ricardo Herbert Jones MD4

Semua ini terselenggara juga atas kemurahan hati Laura Shanley Kaplan, Heather B., dan ICAN-online.org